LAMPUNG — Uji coba penambahan perjalanan ini menyasar periode puncak pagi hari, yakni antara pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Selama tiga jam tersebut, KAI akan mengoperasikan lebih banyak rangkaian kereta dibandingkan jadwal reguler. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap data okupansi yang menunjukkan peningkatan signifikan jumlah pengguna LRT sejak beberapa bulan terakhir.
Mengakomodasi Lonjakan Penumpang di Jam Padat
KAI melihat adanya tren kenaikan jumlah penumpang LRT Jabodebek, terutama pada hari kerja. Banyak pekerja dan pelajar yang mulai beralih menggunakan moda transportasi rel ini untuk menghindari kemacetan. Penambahan frekuensi ini pun difokuskan pada rute-rute yang memiliki tingkat kepadatan tertinggi, seperti dari Stasiun Harjamukti menuju Stasiun Dukuh Atas dan sebaliknya.
Dengan adanya tambahan perjalanan, waktu tunggu penumpang di stasiun pun dipangkas. Sebelumnya, pada jam sibuk, headway atau jarak antar-kereta bisa mencapai 10 menit. Kini, KAI menargetkan headway bisa dipangkas menjadi 5 hingga 7 menit, sehingga pergerakan penumpang dari area pinggiran Jakarta ke pusat kota menjadi lebih cepat dan efisien.
Dampak Langsung untuk Pengguna Harian
Para komuter yang setiap hari mengandalkan LRT Jabodebek menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari uji coba ini. Mereka tak perlu lagi berdesakan di peron atau menunggu terlalu lama saat jam berangkat kerja. “Ini jelas membantu. Biasanya saya harus nunggu agak lama dan gerbong penuh, sekarang lebih longgar,” ujar salah satu pengguna setia LRT di Stasiun Ciracas, kemarin.
KAI menyatakan akan memantau secara ketat efektivitas penambahan perjalanan ini selama masa uji coba. Data jumlah penumpang, tingkat kepadatan di setiap stasiun, serta ketepatan waktu kedatangan kereta akan menjadi indikator utama. Jika hasilnya positif, kebijakan ini kemungkinan besar akan dipermanenkan dan diperluas ke jam sibuk sore hari.
Langkah KAI Genjot Integrasi Transportasi Jabodetabek
Penambahan frekuensi LRT ini merupakan bagian dari upaya KAI untuk memperkuat integrasi transportasi massal di wilayah metropolitan Jakarta. LRT Jabodebek sendiri dirancang sebagai feeder atau pengumpan bagi moda utama seperti MRT dan KRL Commuter Line. Dengan layanan yang lebih sering, diharapkan semakin banyak pengguna kendaraan pribadi yang beralih ke transportasi publik.
Ke depan, KAI juga tengah mengkaji penyesuaian tarif dan skema tiket berlangganan untuk menarik lebih banyak pengguna. Namun, untuk saat ini, fokus utama adalah memastikan kelancaran operasional dan kenyamanan penumpang selama jam sibuk. Uji coba ini menjadi sinyal bahwa operator serius menangani kebutuhan mobilitas warga yang terus meningkat.