PRINGSEWU — PWM Lampung mencatat jumlah kehadiran peserta dalam pengajian pimpinan zona I belum maksimal. Hal itu disampaikan Majelis Tabligh PWM Lampung, Budi Pranoto, saat memberikan sambutan di hadapan jajaran pimpinan daerah dan cabang Muhammadiyah serta 'Aisyiyah se-Bandar Lampung, Pesawaran, Tanggamus, dan Pringsewu.
"Kami berharap kegiatan pengajian dapat terus ditingkatkan kualitas dan partisipasinya sehingga menjadi sarana penguatan ideologi dan ukhuwah di lingkungan Muhammadiyah," ujar Budi Pranoto.
Target Satu Ponpes Per Daerah Jadi Prioritas
Wakil Ketua PWM Lampung, Bejo Susanto, menekankan pentingnya menindaklanjuti instruksi Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengenai target minimal satu pondok pesantren di setiap daerah. Selain itu, PWM Lampung juga mendorong pembentukan dan pengaktifan Korp Mubaligh Muhammadiyah di masing-masing wilayah.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pringsewu, Giarto, menambahkan bahwa program kajian telah dirancang secara bergilir dari cabang ke cabang. Beberapa cabang, kata dia, juga tengah mengembangkan amal usaha sebagai bagian dari penguatan dakwah persyarikatan.
Tiga Pilar Pengabdian yang Harus Berbuah Nyata
Tausyiah dalam pengajian tersebut disampaikan oleh Sutino Sasmito. Ia mengingatkan bahwa kekuatan Muhammadiyah bertumpu pada tiga pilar utama: pengabdian, transendensi, dan iman yang diwujudkan dalam amal nyata.
"Pengabdian dalam Muhammadiyah tidak boleh dimaknai sekadar sebagai aktivitas organisatoris semata, melainkan sebagai bentuk ibadah yang lahir dari keikhlasan hati dan orientasi mencari rida Allah Swt," tegas Sutino.
Menurutnya, nilai transendensi yang benar harus melahirkan semangat humanisme dan liberasi. Dakwah Muhammadiyah, lanjut dia, harus hadir sebagai gerakan yang memuliakan manusia, menghadirkan pendidikan yang mencerdaskan, serta kepedulian sosial yang menenteramkan.
Liberasi: Bebaskan Umat dari Kebodohan dan Kemiskinan
Sutino menjelaskan bahwa liberasi dimaknai sebagai ikhtiar membebaskan umat dari kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan berbagai bentuk ketidakadilan sosial. Ia menekankan bahwa pengabdian dan transendensi tidak akan bergerak tanpa ilmu yang diamalkan.
"Ilmu tidak cukup berhenti pada pemahaman dan wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi umat dan kehidupan," ucapnya.
Dari ilmu yang diamalkan, kata Sutino, akan lahir keteladanan, gerakan pencerahan, dan perubahan sosial yang berkemajuan. Kajian pimpinan zona I ini menjadi pengingat bahwa Muhammadiyah akan terus hidup dan berdampak besar apabila dibangun di atas fondasi iman yang kokoh, pengabdian tulus, ilmu yang diamalkan, serta semangat kemanusiaan yang membebaskan.