PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mulai membangun pabrik manufaktur emas logam mulia berkapasitas 30 ton per tahun di Gresik untuk memperkuat ekosistem bullion domestik. Langkah strategis anak usaha MIND ID ini merespons lonjakan permintaan emas global yang mencetak rekor nilai transaksi US$193 miliar atau setara Rp3.088 triliun pada kuartal I-2024. Peningkatan kapasitas produksi tersebut diproyeksikan mampu menekan defisit neraca perdagangan emas Indonesia yang telah berlangsung sejak 2021.
Pembangunan fasilitas manufaktur di Gresik ini akan melengkapi pabrik pengolahan emas Antam yang sudah beroperasi di Pulogadung, Jakarta, dengan kapasitas 40 ton per tahun. Dengan tambahan unit baru, total kapasitas produksi kepingan emas perusahaan pelat merah ini bakal mencapai 70 ton per tahun. Angka ini sejalan dengan estimasi kebutuhan emas logam mulia nasional yang terus merangkak naik di level 70 ton setiap tahunnya.
Integrasi Rantai Pasok dan Pasokan Freeport
Dalam skema industri yang terintegrasi, Antam tidak bekerja sendirian untuk mengamankan bahan baku. Pasokan emas batangan nantinya bersumber dari dua lini utama, yakni tambang emas milik Antam di Jawa Barat yang menyumbang sekitar 1 ton per tahun, serta kontribusi masif dari Precious Metal Refinery (PMR) milik PT Freeport Indonesia.
Fasilitas PMR Freeport tersebut memiliki kemampuan mengolah lumpur anoda menjadi emas batangan dengan volume mencapai 50 hingga 60 ton per tahun. Sinergi di bawah payung Holding Industri Pertambangan MIND ID ini diharapkan mampu menciptakan kemandirian industri dari hulu ke hilir, sekaligus memastikan ketersediaan stok logam mulia di pasar lokal tetap terjaga.
Rekor Permintaan Global dan Sentimen Pasar
Data World Gold Council menunjukkan total permintaan emas global pada kuartal pertama tahun ini naik 2 persen secara tahunan menjadi 1.231 ton. Meski kenaikan volume terlihat tipis, lonjakan harga emas yang signifikan membuat nilai permintaan kuartalan melambung 74 persen. Fenomena ini didorong oleh agresivitas investor Asia yang memborong produk investasi emas, termasuk emas batangan dan koin yang permintaannya mencapai 474 ton.
Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menilai tren penguatan harga emas global merupakan momentum krusial bagi BUMN pertambangan untuk memacu kapasitas produksi. Menurutnya, ada dua keuntungan utama yang bisa diraih negara. Selain potensi peningkatan laba bersih dari kenaikan harga, penguatan produksi domestik akan memperbaiki neraca perdagangan emas yang saat ini masih mengalami defisit.
Mengakhiri Status Net Importer
Indonesia saat ini masih menyandang status sebagai net importer emas karena volume impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri lebih besar dibandingkan nilai ekspornya. Kondisi ini menjadi ironi mengingat Indonesia memiliki cadangan tambang emas yang signifikan. "Di saat permintaan tinggi, peningkatan produksi menjadi sangat penting bagi BUMN untuk mengambil peluang profit sekaligus meringankan beban neraca perdagangan," ujar Herry.
Melalui penguatan infrastruktur pengolahan di Gresik, pemerintah berupaya memastikan nilai tambah komoditas tambang tetap berputar di dalam negeri. Optimalisasi fasilitas manufaktur ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar pasar emas nasional tidak lagi bergantung pada produk impor di tengah volatilitas harga global yang terus bergejolak.