ITPLN Pasang Pompa Tenaga Surya 5 kWp di Karawang, Petani Bisa Panen Tiga Kali Setahun

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Sabtu, 13 Juni 2026 | 21:10:01 WIB
Tim PKM ITPLN memasang pompa irigasi tenaga surya 5 kWp di Kecamatan Telagasari, Karawang.

LAMPUNG — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan ITPLN turun langsung ke Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang. Mereka membawa solusi irigasi berbasis energi surya yang tidak hanya mengandalkan panel surya, tetapi juga dilengkapi baterai penyimpanan dan sistem pengendali motor agar pompa tetap stabil meski cuaca mendung.

Teknologi Pompa yang Bisa "Soft Start"

Sistem yang dibangun menggunakan panel surya 5 kWp yang mengubah radiasi matahari menjadi listrik arus searah (DC). Energi itu kemudian diatur melalui solar charge controller berbasis MPPT, disimpan di baterai, lalu diubah menjadi arus bolak-balik (AC) lewat inverter untuk menggerakkan motor pompa.

Salah satu komponen kuncinya adalah variable frequency drive (VFD) yang ditingkatkan dari 5,5 kW menjadi 10 kW. Alat ini memungkinkan motor melakukan soft start atau beroperasi secara bertahap, sehingga lonjakan arus saat pompa dinyalakan bisa ditekan. Motor pompa juga diperbesar dari 5,5 kW menjadi 7,5 kW untuk meningkatkan debit air yang dipompa.

Ketua Tim PKM ITPLN, Meyhart Bangkit Sitorus, mengatakan energi dari panel surya pada siang hari tidak seluruhnya dipakai langsung. Sebagian disimpan di baterai sebagai cadangan ketika sinar matahari menurun. "Petani memperoleh sumber energi yang lebih bersih sekaligus pasokan yang lebih stabil untuk mengoperasikan pompa irigasi," ujarnya.

Bukan Sekadar Eksperimen, Air Sudah Mengalir

Kepala Desa Ciwulan, Warkat Subrata, mengkonfirmasi air dari pompa tenaga surya sudah mulai mengalir ke lahan pertanian, meskipun infrastruktur pendukung belum rampung sepenuhnya. "Air sudah bisa dialirkan. Ini bukan lagi sekadar eksperimen, tetapi teknologi yang mulai memberi dampak nyata," kata Warkat.

Pemerintah desa setempat telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp320 juta untuk mendukung program ini. Namun, jaringan pipa hingga titik akhir saluran tersier masih perlu dibangun agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh petani. Warkat berharap kerja sama ini berlanjut, terutama untuk pengembangan pengairan pertanian.

Senada, Kepala Desa Pulosari, H. Kana, menyebut kebutuhan air irigasi di wilayahnya sangat mendesak. Saluran yang kerap rusak membuat pasokan air tidak selalu sampai ke sawah. Akibatnya, beberapa petani hanya mampu panen sekali setahun, jauh di bawah daerah lain yang bisa tiga kali panen. Ia berharap dukungan dari pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat terus mengalir, khususnya untuk penyelesaian saluran sekunder dan tersier.

Kampus Turun ke Sawah, Bukan Menara Gading

Anggota tim PKM ITPLN, Prof Syamsir Abduh, menegaskan bahwa teknologi pompa listrik tenaga surya (PLTS) telah membuktikan diri bisa diterapkan di sektor pertanian. "Perguruan tinggi bukan menara gading. Kampus harus turun ke lapangan untuk menjawab persoalan masyarakat," katanya.

Selain memasang teknologi, tim ITPLN juga memberikan pelatihan kepada petani tentang pengoperasian sistem, keselamatan kerja, perawatan baterai, hingga pemeriksaan rutin perangkat. Tujuannya agar masyarakat mampu mengelola dan menjaga keberlanjutan sistem secara mandiri.

ITPLN mengusulkan kawasan Ciwulan dan Pulosari dikembangkan menjadi desa binaan berbasis teknologi tepat guna. Dengan infrastruktur yang memadai dan kapasitas masyarakat yang terus ditingkatkan, sistem pompa air tenaga surya di dua desa ini berpotensi menjadi model yang bisa direplikasi di sentra pertanian lain di Indonesia.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top