BANDAR LAMPUNG — Empat personel yang tergabung dalam Diujung Jemari—Gina (vokal), Deny (gitar), Vrando (bass), dan Ana Hz (drum)—menghadirkan warna musik yang sarat makna. Nama grup ini bukan sekadar panggung, melainkan memiliki filosofi mendalam tentang komitmen dan pembuktian melalui tindakan nyata.
Filosofi di Balik Nama "Diujung Jemari"
“Diujung Jemari melambangkan sebuah janji yang dibuktikan melalui tindakan, bukan sekadar kata-kata. Ini adalah tentang komitmen yang tetap dijaga dan ditepati dalam kondisi apa pun,” ujar Ana Hz saat sesi bedah lagu. Filosofi ini kemudian menjadi fondasi dalam setiap karya yang mereka hasilkan.
Nilai-nilai tersebut tertuang dalam single “Kamulah Nafasku (NFS)”. Lagu ini menggambarkan sosok yang menjadi sumber kekuatan dan semangat hidup, layaknya napas yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Apresiasi dari Tokoh Seni dan Pemerintah Daerah
Rico Dewantoro, Komite Film Dewan Kesenian Lampung (DKL), menyampaikan apresiasinya atas hadirnya karya baru dari musisi Lampung. Menurutnya, kehadiran lagu seperti “Kamulah Nafasku (NFS)” menambah warna dalam perkembangan ekosistem seni dan musik di Lampung.
Senada dengan itu, Dandi Nursetia, Pejabat Fungsional Pranata Humas Diskominfotik Provinsi Lampung, menilai lagu tersebut membawa pesan positif yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia menyebut karya ini berpotensi menjadi inspirasi bagi para pendengarnya.
Langkah Awal Menuju Panggung Lebih Luas
Single “Kamulah Nafasku (NFS)” kini telah tersedia di berbagai platform streaming musik digital, seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Deezer. Perilisan ini menjadi langkah awal Diujung Jemari dalam memperkenalkan identitas musikal mereka kepada masyarakat luas.
Grup musik ini mengedepankan kejujuran dalam berkarya. Melalui lagu-lagu yang mereka hadirkan, Diujung Jemari berupaya menyampaikan pesan tentang komitmen, tindakan nyata, dan realitas kehidupan. Mereka berkomitmen untuk terus menghadirkan musik yang memiliki makna mendalam bagi para pendengarnya.