KOTABUMI — Masa usia dini merupakan periode kritis yang menentukan perkembangan otak dan karakter seorang anak. Dosen STAI Ibnu Rusyd Kotabumi, Halen Dwistia, M.Pd., menekankan bahwa lingkungan rumah yang penuh kasih sayang dan rasa aman menjadi syarat mutlak agar potensi anak bisa berkembang optimal.
“Tumbuh kembang anak merupakan hasil dari kolaborasi dan kerja sama yang baik antara kedua orang tua,” ujar Halen, Senin (6/7/2026).
Hindari Membandingkan Anak dengan Teman Sebaya
Menurut Halen, masih banyak orang tua yang secara tidak sadar menuntut anaknya untuk bisa membaca, menulis, atau berhitung lebih cepat dari teman sebayanya. Padahal, setiap anak memiliki keunikan dan tahapan perkembangan yang berbeda.
“Setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Ada yang lebih mudah mengekspresikan diri melalui gambar dan kegiatan seni, ada pula yang lebih senang bergerak aktif atau bercerita,” jelasnya. Perbedaan itu, lanjutnya, bukanlah kekurangan melainkan potensi yang harus dihargai dan dikembangkan.
Kebiasaan Sederhana yang Membangun Karakter
Kolaborasi orang tua bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Halen mencontohkan, ayah bisa meluangkan waktu membacakan cerita sebelum tidur, sementara ibu mendampingi anak bermain permainan edukatif atau berdiskusi tentang aktivitas di sekolah.
Kedua orang tua juga perlu bersama-sama membangun kebiasaan positif. Ajarkan anak merapikan mainan setelah digunakan, biasakan mengucapkan “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”, serta latih anak menyampaikan pendapat dengan santun.
“Ketika ayah dan ibu memberikan teladan yang sama dalam bersikap dan berkomunikasi, anak akan lebih mudah memahami nilai-nilai yang diajarkan. Pendidikan karakter sesungguhnya dimulai dari rumah melalui keteladanan orang tua,” kata Halen.
Komunikasi dengan Guru PAUD Jadi Kunci Pendampingan
Halen menambahkan, komunikasi yang baik antara orang tua dan guru PAUD menjadi faktor penting. Dengan saling bertukar informasi mengenai kebiasaan, minat, maupun tantangan yang dihadapi anak, strategi pendampingan di rumah dan sekolah bisa lebih efektif.
Ia menekankan, keberhasilan pendidikan anak usia dini tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat anak mampu membaca atau berhitung. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, mampu mengelola emosi, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
“Sinergi antara orang tua dan sekolah menjadi modal utama dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, berakhlak mulia, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” pungkasnya.