LAMPUNG — Data wholesales Gaikindo yang dihimpun detikOto menunjukkan pasar kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) Indonesia mengalami kontraksi paling dalam sepanjang tahun berjalan. Volume distribusi Mei 2026 menjadi yang terendah sejak Januari lalu. Penurunan drastis dari bulan sebelumnya ini langsung mengubah peta persaingan di papan atas.
SUV listrik besutan Chery Group itu tampil sebagai satu-satunya model dengan distribusi di atas dua ribu unit. Jaecoo J5 mencatatkan angka 2.943 unit, unggul jauh dari pesaing terdekatnya. Posisi kedua ditempati Geely EX2 dengan raihan 1.395 unit, sementara Wuling Eksion melengkapi podium tiga besar lewat distribusi 535 unit.
Dominasi Jaecoo J5 ini sekaligus menegaskan strategi Chery Group yang agresif mendongkrak volume lewat segmen SUV kompak. Padahal, pasar secara keseluruhan sedang lesu.
Kejutan terbesar datang dari BYD. Merek yang selama berbulan-bulan menguasai papan penjualan tiba-tiba tak terlihat di daftar 10 besar. Produk terlaris mereka, MPV BYD M6, hanya mampu terjual 197 unit dan terlempar ke peringkat 12. Nasib lebih buruk dialami BYD Atto 3 yang hanya terdistribusi 174 unit, serta BYD Atto 1 yang cuma 28 unit.
Absennya BYD membuka peluang lebar bagi merek lain. MG S5 EV langsung merangsek ke peringkat 4 dengan 354 unit. VinFast VF3, mobil mungil asal Vietnam, sukses menyodok ke peringkat 7 dengan 250 unit. Xpeng G6 dan Denza D9 juga ikut menikmati momentum ini dengan masing-masing 232 unit dan 210 unit.
Di luar 10 besar, persaingan juga ketat. Wuling Darion mengoleksi 200 unit, Hyundai Ioniq 5 hanya 195 unit, dan GAC AION V sebanyak 187 unit. Polytron G3 dan G3+ menutup papan tengah dengan 105 unit.
Anjloknya penjualan bulan Mei ini menjadi alarm bagi industri. Pertanyaannya, apakah ini sekadar siklus musiman atau sinyal jenuh pasar terhadap model-model yang ada saat ini?