BANDARLAMPUNG — Program pengurangan sampah pangan di Lampung tidak lagi hanya berhenti pada imbauan. Pemerintah provinsi mulai menyentuh tahapan paling awal dari rantai pasok, yakni saat panen dan pengemasan. Langkah ini diambil agar komoditas pertanian tidak terbuang sia-sia sebelum sempat sampai ke tangan konsumen.
Elvira menjelaskan, perluasan Gerakan Selamatkan Pangan dimulai dari kegiatan pasca panen. "Kita mulai perluas gerakan ini mulai dari pasca panen, yakni dari pemetikan sampai pengemasan komoditas jangan sampai ada yang terbuang, dan tidak termanfaatkan hingga terbuang percuma," ujarnya di Bandarlampung, Sabtu.
Selama ini, kerugian pangan kerap terjadi pada fase ini. Hasil bumi yang tidak tertangani dengan baik berpotensi menjadi limbah sebelum sempat didistribusikan.
Selain memperbaiki tata kelola pasca panen, Pemprov Lampung juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat. Pemerintah daerah bekerja sama dengan pihak terkait melakukan kampanye untuk selalu menghabiskan makanan yang ada di piring.
"Edukasi kepada masyarakat terutama di sekolah-sekolah melalui kampanye menghabiskan makanan yang ada di piring pun dilakukan dalam rangka Gerakan Selamatkan Pangan," kata Elvira. Langkah ini dinilai krusial untuk membentuk kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab sejak dini.
Upaya Lampung ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Negara-negara di dunia berkomitmen mengurangi 50 persen food waste per kapita di tingkat ritel dan konsumen serta menekan food loss dari produksi hingga distribusi pada 2030.
Komitmen itu tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjadi motor penggerak Gerakan Selamatkan Pangan di berbagai daerah.
Provinsi Lampung menjadi salah satu lokasi penerapan Gerakan Selamatkan Pangan. Daerah lain yang masuk dalam program ini antara lain Sumatera Selatan, Riau, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Bali, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua.
Secara nasional, capaian program Gerakan Selamatkan Pangan pada 2025 tercatat cukup signifikan. Jumlah pangan yang berhasil diselamatkan mencapai 137,6 ton. Dari jumlah tersebut, 126 ton telah tersalurkan kepada 368.691 orang penerima manfaat.
Masyarakat dapat berpartisipasi dengan membiasakan diri menghabiskan makanan, membeli sesuai kebutuhan, serta memanfaatkan sisa pangan secara bijak. Edukasi di lingkungan sekolah dan keluarga menjadi kunci utama keberhasilan program jangka panjang ini.