Pencarian

Seruit di Balikpapan: Sepiring Lampung yang Menolak Dilupakan, Jadi Tempat Pulang Ratusan Perantau

Senin, 01 Juni 2026 • 21:39:01 WIB
Seruit di Balikpapan: Sepiring Lampung yang Menolak Dilupakan, Jadi Tempat Pulang Ratusan Perantau
Sepiring seruit di Raja Sambal Seruit Balikpapan menjadi simbol kebersamaan perantau Lampung.

BALIKPAPAN — Aroma ikan bakar bercampur sambal terasi mengepul dari dapur sebuah ruko di Jalan Ruhui Rahayu, Balikpapan. Di kota yang tumbuh dari minyak dan para perantau, Raja Sambal Seruit hadir sebagai ruang pulang bagi lidah orang Lampung.

Bagi mereka yang lahir di Tanah Lada, sepiring seruit bukan hanya urusan makan siang. Ia adalah kenangan yang diulek bersama sambal, percakapan keluarga yang terselip dalam aroma ikan bakar, dan cara sebuah daerah mempertahankan identitasnya meski terpisah ratusan kilometer.

Apa Itu Seruit dan Mengapa Begitu Istimewa?

Seruit tampak sederhana: ikan bakar atau goreng disuwir, dicampur sambal terasi yang pedas menggigit, lalu diberi perasan jeruk limau. Bagi pencinta rasa autentik, tempoyak—fermentasi durian khas Lampung—ikut dimasukkan ke dalam adonan sambal. Semua bahan itu diaduk di atas cobek hingga menyatu.

Proses itulah yang disebut "nyeruit". Dari kata tersebut lahirlah nama makanan yang kini menjadi ikon kuliner Lampung. Sejak awal, seruit tidak pernah dirancang untuk dinikmati sendirian.

Lebih dari Sekadar Makanan: Simbol Kebersamaan

Masyarakat Lampung mengenal seruit sebagai hidangan yang mengumpulkan orang-orang dalam satu lingkaran. Di atas tampah besar, ikan, sambal, lalapan, dan nasi diletakkan bersama. Tidak ada sekat. Semua duduk sejajar, berbagi rasa dan cerita.

Di tengah zaman yang membuat orang makan sambil menatap layar ponsel, seruit masih mengajarkan sesuatu yang sederhana: makanan terbaik sering kali bukan yang paling mahal, melainkan yang membuat orang mau duduk bersama. Konon, di Lampung, hidangan ini selalu hadir dalam pesta pernikahan, acara adat, hingga kumpul keluarga besar.

Raja Sambal Seruit: Oase di Tengah Kota Minyak

Tradisi itu ikut merantau ke Balikpapan. Raja Sambal Seruit menjadi salah satu titik temu para perantau Lampung yang rindu kampung halaman. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang mengajak rekan kerja mencicipi makanan khas daerahnya, ada pula yang sekadar ingin mendengar kembali logat Lampung di meja sebelah.

"Mereka datang bukan hanya untuk makan. Mereka datang untuk mengobati rindu," tulis Majid Lintang, wartawan senior Lampung Post yang kini tinggal di Kalimantan, dalam tulisannya untuk DIFA TV.

Identitas Budaya yang Hidup Lewat Sepiring Seruit

Di sebuah rumah makan sederhana di Jalan Ruhui Rahayu, Lampung masih hidup. Tidak lewat monumen atau pidato, melainkan lewat sambal yang pedas, ikan yang harum, dan orang-orang yang masih percaya bahwa makan bersama adalah cara paling manusiawi untuk menjaga persaudaraan.

Seperti semua kenangan yang baik, seruit selalu menemukan jalan pulang. Meski kini berada di tengah hiruk-pikuk Balikpapan yang terus bertumbuh, sepiring seruit tetap menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, mengikuti langkah para perantau.***

Bagikan
Sumber: difatv.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks