LAMPUNG — Hubungan permodalan yang dibangun sejak 2016 itu kini memasuki fase krusial. Nissan tercatat membeli 34 persen saham Mitsubishi Motors pada Oktober 2016 senilai sekitar 240 miliar yen (setara Rp26,64 triliun dengan kurs Rp111 per yen). Akuisisi yang digagas Chairman Nissan kala itu, Carlos Ghosn, sebagian berfungsi sebagai penyelamatan setelah Mitsubishi terpuruk akibat skandal data efisiensi bahan bakar.
Sinergi yang Tidak Mengangkat Laba
Sepanjang hampir satu dekade, kerja sama keduanya memang melahirkan sejumlah produk. Kei car listrik Nissan Sakura dan Mitsubishi eK X EV tercatat laris di pasar domestik Jepang. SUV Mitsubishi Outlander dan Nissan X-Trail juga dibangun di atas platform bersama.
Namun, hasilnya tidak cukup signifikan secara finansial. Koji Endo, chief executive analyst SBI Securities, menilai kerja sama yang terjalin "tidak cukup untuk menopang laba mereka".
Hitungan Nikkei Asia menunjukkan rasio laba operasional terhadap belanja riset dan pengembangan Mitsubishi hanya 1,3 pada lima tahun hingga tahun fiskal 2025. Angka itu turun tajam dibandingkan periode satu dekade sebelumnya yang mencapai 3,3. Sebagai pembanding, Suzuki dan Subaru yang bermitra dengan Toyota mencatat rasio 3,2 dan 2,3 pada periode yang sama.
Seiji Sugiura, senior analyst Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, bahkan meragukan kedalaman kajian di balik investasi tersebut. "Investasi itu tampaknya benar-benar didorong oleh Ghosn, dan saya ragu apakah ada diskusi mendalam sebelumnya soal kerja sama," ujarnya. Ia juga menilai kedua perusahaan "tidak membuat kemajuan pada berbagi komponen dan pengadaan."
Kontribusi Kecil bagi Nissan, Tekanan Besar bagi Mitsubishi
Bagi Nissan, hubungan dengan Mitsubishi diperkirakan hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total laba sebelum pajak selama sepuluh tahun terakhir. Sementara itu, Mitsubishi Motors menanggung beban berat di pasar Asia Tenggara, kawasan yang digarapnya intensif sejak awal 2000-an. Serangan pabrikan China ditambah dampak tarif Amerika Serikat dan konflik Timur Tengah membuat posisinya kian terdesak.
Nissan sendiri tidak lebih baik. Perusahaan itu mencatat rugi bersih tahunan kedua berturut-turut pada tahun fiskal 2025 akibat lesunya penjualan di Amerika Utara dan tengah menjalani restrukturisasi besar-besaran. Kapitalisasi pasar Mitsubishi Motors pun merosot sekitar 40 persen sejak Oktober 2016.
"Bertahan di jalur saat ini tidak akan menghasilkan teknologi atau model bisnis baru," kata Endo.
Skema Baru: Aliansi Tiga Arah atau Masuknya Foxconn?
Struktur permodalan saat ini menempatkan Nissan bersama tiga perusahaan grup Mitsubishi, termasuk Mitsubishi Corp., menguasai total 51 persen saham Mitsubishi Motors. Meski disebut tidak akan berubah dalam waktu dekat, rumor di kalangan analis pasar mengarah pada kemungkinan Nissan melepas sebagian sahamnya.
Salah satu opsi yang paling santer adalah masuknya Honda untuk membentuk aliansi tiga arah. Kekuatan Mitsubishi di segmen pikap dinilai menjadi daya tarik utama bagi Honda, yang saat ini sedang menjalin pembicaraan dengan Nissan soal pengembangan software-defined vehicle.
Opsi lain datang dari Foxconn. Pekan lalu, Mitsubishi mengumumkan akan membeli satu unit mobil listrik yang dikembangkan Foxconn, dengan penjualan perdana ditargetkan di Australia dan Selandia Baru paling cepat tahun ini.
Sugiura membuka kemungkinan skema yang lebih luas. "Saya juga bisa membayangkan aliansi tiga perusahaan, bukan hanya Mitsubishi Motors dan Foxconn, tetapi juga Honda, yang telah berbelok dari prinsip jalan sendiri," tuturnya.