KOTABUMI — Di atas panggung seremonial, Lampung Utara bersolek merayakan hari jadinya yang ke-80. Deretan karangan bunga menghiasi trotoar Kotabumi, pidato keberhasilan menggema di ruang paripurna, dan pesta rakyat digelar sebagai bukti kemajuan. Namun, di jalan-jalan kabupaten yang berjuluk Bumi Ragem Tunas Lampung ini, warga justru bergulat dengan realitas yang pahit.
Jalan Berlubang dan Proyek Gagal di Tahun Politik
Alih-alih menemukan kesegaran di usia yang ke-80, rakyat Lampung Utara seolah sedang menjemput nestapa di tengah oase yang diciptakan oleh elite penguasa. Infrastruktur dasar, terutama jalan dan jembatan, masih menjadi momok yang menakutkan. Tahun 2025 memberikan luka yang belum kering; puluhan paket proyek jalan dan jembatan gagal terealisasi.
Jembatan-jembatan yang hampir ambrol dan jalanan yang lebih mirip kubangan saat hujan bukan sekadar masalah teknis dinas terkait, melainkan bukti nyata adanya “nestapa” perencanaan. Oase pembangunan yang dijanjikan tiap musim kampanye tiba ternyata hanyalah fatamorgana yang menguap tepat sebelum menyentuh ban kendaraan warga di pelosok.
Paradoks “Anak Tua” di Liga Kemiskinan
Sebagai kabupaten induk yang telah melahirkan banyak daerah otonomi sukses, Lampung Utara justru tampak tertatih-tatih. Angka kemiskinan yang masih bertengger di papan atas “Liga Kemiskinan” Provinsi Lampung adalah paradoks yang menyakitkan. Semboyan “Ragem Tunas Lampung” yang bermakna kerukunan untuk tumbuh, kini terdengar seperti satire.
“Bagaimana tunas bisa tumbuh jika tanah birokrasinya terus-menerus digerogoti oleh residu kasus hukum dan kegiatan fiktif yang tak kunjung usai?” tulis Rudi Alfian dalam analisisnya di Lintas Lampung, mengkritisi kondisi birokrasi yang dinilai mandek.
Mabuk Seremonial Versus Kebutuhan Rakyat
Masyarakat Lampung Utara tidak butuh baliho raksasa atau status ucapan di media sosial dengan senyum pejabat yang dipoles aplikasi penyunting foto. Rakyat butuh oase yang nyata: jalan yang mulus untuk mengangkut hasil bumi, birokrasi yang bersih dari pungli, dan kepastian bahwa identitas sebagai “Anak Tua” adalah sebuah kehormatan, bukan beban sejarah yang memalukan.
Jikalau ulang tahun ini hanya diisi dengan hura-hura sementara realitas sosial masih mencekik, maka kita sebenarnya tidak sedang merayakan hari lahir. Melainkan kita tengah mabuk seremonial dengan cara yang lebih mewah. Sudah saatnya Lampung Utara berhenti menjemput nestapa dan menghadirkan oase itu di piring-piring nasi rakyat, bukan hanya di meja prasmanan para pejabat.