Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diesel nonsubsidi berdampak langsung pada pengeluaran pemilik mobil bermesin peminum solar. May (68), seorang warga Jakarta yang mengandalkan Mitsubishi Pajero Sport untuk aktivitas harian, merasakan perubahan drastis pada biaya pengisian bahan bakar. Jika sebelumnya ia hanya butuh Rp 500 ribu untuk memenuhi tangki, kini angka tersebut melonjak hingga tiga kali lipat.
"Luar biasa mahalnya, naiknya sampai dua kali lipat. Dulu Rp 500 ribu tuh udah full tank, sekarang full tank harus Rp 1,5 juta," ungkap May saat menjelaskan kondisi pengeluaran harian yang kian membengkak.
Risiko Kerusakan Mesin Jadi Alasan Enggan Pindah BBM
Meski biaya operasional meningkat signifikan, May memilih bertahan menggunakan BBM diesel nonsubsidi dan tidak berniat mengganti kendaraannya. Kekhawatiran terhadap durabilitas mesin menjadi alasan utama mengapa ia tidak melirik Biosolar yang harganya lebih terjangkau. Ia menilai penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi berisiko merusak komponen mesin mobilnya.
"Takutnya mesinnya rusak kalau ke biosolar atau Pertalite, takutnya enggak cocok. Mau ganti mobil apaan? Sayang itu mobilnya mau diapain? Ya udah pasrah aja," tuturnya. Sikap pasrah ini menjadi gambaran dilema pengguna mobil diesel modern yang harus menjaga performa mesin di tengah gempuran harga bahan bakar yang terus merangkak naik.
Daftar Harga BBM Diesel Nonsubsidi di Berbagai SPBU
Kenaikan harga ini merata di berbagai penyedia bahan bakar, baik perusahaan pelat merah maupun swasta. Berikut adalah rincian harga BBM diesel terbaru yang berlaku di pasar:
- Pertamina: Dexlite dibanderol sekitar Rp 26.000 per liter, sementara Pertamina Dex berada di angka Rp 27.900 per liter.
- VIVO: Diesel Primus dijual seharga Rp 30.890 per liter.
- BP: Berdasarkan pantauan, Diesel Primus pada jaringan BP Ultimate Diesel dipatok Rp 29.890 per liter.
Peralihan ke Transportasi Umum Demi Menekan Biaya
Cerita berbeda datang dari Ari (37), pengguna Toyota Innova diesel lansiran 2019. Kenaikan harga yang dianggap tidak wajar ini memicu perubahan pola mobilitas bagi pekerja di kawasan Mega Kuningan tersebut. Rute harian Jakarta Selatan-Bintaro yang biasanya ditempuh dengan mobil pribadi kini mulai dikurangi intensitasnya.
Ari mengaku lebih emosional menanggapi kenaikan harga yang hampir menyentuh angka 100 persen. Untuk menyiasati keadaan, ia kini lebih sering memanfaatkan transportasi publik seperti TransJakarta, terutama saat hari kerja. Penggunaan mobil pribadi kini dibatasi hanya untuk keperluan mendesak agar pengeluaran keluarga tetap terkendali.
"Jadi males pakai mobil yang diesel. Weekend sebisa mungkin enggak pakai mobil tersebut. I choose to ride bus nowadays," kata Ari menutup penjelasannya mengenai strategi bertahan di tengah tingginya harga BBM diesel.