Dies Natalis ke-61 Unila Hadirkan Dua Orasi Ilmiah, dari Hilirisasi hingga Visi Academic Impact

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Jumat, 25 September 2026 | 20:01:02 WIB
Rapat Luar Biasa Senat Universitas Lampung menghadirkan dua orasi ilmiah pada puncak Dies Natalis ke-61.

BANDAR LAMPUNG — Rapat Luar Biasa Senat Universitas Lampung menghadirkan dua orasi ilmiah yang saling melengkapi pada puncak Dies Natalis ke-61. Orasi pertama dibawakan Wakil Direktur Utama MIND ID Dr. Dany Amrul Ichdan, S.E., M.Sc., yang juga putra daerah Lampung. Orasi kedua disampaikan Guru Besar Unila Prof. Suharso, S.Si., Ph.D.

Ekonomi Lampung Terjebak Middle Income Trap

Dany menyoroti kondisi ekonomi Lampung yang dinilainya stagnan. Ia menyebut daerah ini terjebak dalam fenomena middle income trap atau seperti lari di atas treadmill.

"Dalam 15 tahun PDRB Lampung hanya naik 3,5 kali, dari Rp150 triliun pada 2010 menjadi Rp523 triliun pada 2025. Pertumbuhan 5,25 persen tertinggi di Sumatra, tapi kontribusi manufaktur stagnan di 17-20 persen. Kelihatannya capek larinya kencang, tapi posisinya di situ-situ saja," ujar Dany.

Menurutnya, akar masalahnya adalah rantai nilai yang berhenti terlalu awal. Dari total produksi pertanian Lampung Rp190 triliun, baru Rp20-30 triliun yang masuk industri. Sisanya Rp130 triliun masih dijual mentah.

Lampung Juara Nasional di Lima Komoditas

Dany memaparkan sejumlah komoditas unggulan Lampung yang sebenarnya berpotensi besar. Ubi kayu menempati peringkat 1 nasional dengan nilai Rp10,6 triliun. Pisang juga peringkat 1 dengan Rp25,3 triliun.

Jagung berada di peringkat 3 nasional, kopi robusta peringkat 2, dan lada hitam disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Kerangka DAI dan Tiga Kawasan Industri Strategis

Dany menawarkan solusi melalui kerangka DAI: Distinctive, Adaptive, Includive. Dari sisi Adaptive, ia mengapresiasi Pemprov Lampung yang membangun tiga kawasan industri strategis.

Katibung dikembangkan sebagai kawasan energi terintegrasi dengan kilang 300 ribu bpd dan bioetanol jagung yang akan groundbreaking 2027. Kawasan KAIL II dan Rejosari diproyeksikan menjadi fondasi agroindustri berbasis sorgum dan singkong.

Untuk sisi Includive, Dany menyoroti lemahnya posisi tawar petani. Ia memuji program Bed Dryer Pemprov Lampung yang sudah terwujud di Pringsewu. Alat itu memangkas waktu pengeringan gabah dari 15 hari menjadi 10-12 jam, sehingga petani bisa menyimpan dan menunggu harga terbaik.

Dari Academic Output Menuju Academic Impact

Prof. Suharso melengkapi dari sisi kampus. Guru Besar Unila itu menegaskan universitas masa depan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi.

"Masyarakat sekarang tidak hanya bertanya berapa banyak penelitian yang kita hasilkan, tetapi masalah apa yang berhasil kita selesaikan. Ukuran keberhasilan harus bergerak dari academic output menuju academic impact," tegas Suharso.

Suharso kemudian menegaskan posisi strategis Lampung sebagai Living Laboratory. Pada triwulan III 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 28,38 persen ekonomi Lampung.

"Lampung bukan hanya lokasi Universitas Lampung, Lampung adalah laboratorium Universitas Lampung. Setiap persoalan daerah adalah research question," ujarnya.

Ia mengingatkan banyak riset terhenti di publikasi. Padahal hilirisasi bukan sekadar komersialisasi, melainkan proses membawa ilmu dari laboratorium menuju kehidupan. Untuk itu dibutuhkan kolaborasi antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat.

"Universitas kelas dunia bukan hanya yang dikenal dunia, tapi kontribusinya dibutuhkan dunia. Kita membangun pengetahuan dari Lampung, Inovasi untuk Indonesia, dan solusi bagi dunia," tutupnya.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: newsanalis.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top