BANDAR LAMPUNG — Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda memaksa pemerintah daerah menghentikan sementara pembelajaran tatap muka. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung memastikan PJJ berlangsung dua hari, 9-10 September 2026, dengan sekolah tetap memberikan tugas secara daring.
Kebijakan ini menyasar sekolah di wilayah yang berpotensi terkena hujan abu, mencakup Lampung Selatan, Pesawaran, Tanggamus, dan Bandar Lampung. Para orang tua diminta mengaktifkan grup komunikasi dengan pihak sekolah selama masa PJJ berlangsung.
Keputusan PJJ tidak berjalan kaku. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung akan mengevaluasi kebijakan ini sesuai perkembangan aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Jika erupsi mereda dan sebaran abu tidak lagi mengancam, pembelajaran tatap muka bisa dipercepat.
Imbauan penggunaan masker disampaikan kepada warga yang tetap beraktivitas di luar rumah, terutama di kawasan pesisir yang berpotensi dilanda hujan abu tipis.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih melakukan pemantauan intensif terhadap gunung api yang terletak di perairan Selat Sunda tersebut. Kolom abu teramati dalam laporan pemantauan terbaru, meski ketinggian pastinya belum dirinci secara resmi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung telah menyiagakan personel di daerah rawan abu vulkanik. Langkah ini memastikan respons cepat jika terjadi dampak yang lebih luas dari erupsi.
Hingga Selasa (8/9) malam, aktivitas pelayaran di Selat Sunda masih beroperasi. Otoritas terkait melakukan penyesuaian rute dan jadwal untuk menghindari risiko bagi kapal yang melintas dekat area erupsi.
Belum ada laporan gangguan kesehatan signifikan akibat abu vulkanik hingga Selasa malam. Namun, warga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan memantau kanal resmi PVMBG serta BPBD Lampung.