LAMPUNGVOICE.COM — Suara dentuman dan gemuruh letusan Gunung Anak Krakatau terdengar jelas hingga kawasan pesisir Lampung dan Banten setelah gunung api di Selat Sunda tersebut memuntahkan pancaran lava menerus sejak Jumat (4/9/2026) malam. PVMBG memastikan aktivitas vulkanik dengan intensitas tertinggi sepanjang 2026 ini tidak berpotensi memicu tsunami. Kendati demikian, warga dan nelayan diimbau tidak mendekati kawah dalam radius aman tiga kilometer.
Aktivitas vulkanik ini tercatat sebagai letusan dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026. Berdasarkan rekaman pos pengamatan pada periode 00.00 hingga 06.00 WIB, terjadi satu kali gempa letusan beramplitudo maksimum 70 milimeter dengan durasi panjang mencapai 21.600 detik.
Mengapa Letusan Kali Ini Tidak Berpotensi Tsunami?
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan erupsi berskala besar ini tidak memicu bahaya gelombang tsunami di pesisir Selat Sunda. Dimensi fisik tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini relatif masih kecil, sehingga potensi longsoran material besar ke laut yang dapat membangkitkan tsunami dinilai sangat kecil atau nyaris nihil.
Petugas pengamat gunung api Muhammad Dika Nurzaman mengimbau masyarakat di pesisir Banten maupun Lampung agar tetap tenang dan tidak terpancing kepanikan. Masyarakat, wisatawan, serta nelayan dilarang mendekati area kawah aktif dalam radius 3 kilometer. "Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tetap menjauh dari Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer," kata petugas pengamat Gunung Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman.
Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri tetap bertahan di Level III (Siaga). Status siaga ini sudah ditetapkan sejak 2 Juli 2026 dan belum mengalami kenaikan level, kendati pos pemantau mencatat sudah terjadi lebih dari 240 kali letusan sejak status tersebut diberlakukan.
Kamera Pemantau Kawah Rusak Terhantam Material
Erupsi intensif selama berjam-jam tersebut memicu kerusakan teknis pada sejumlah perangkat pemantau di sekitar tubuh gunung. Beberapa unit kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di dekat bibir kawah mengalami kerusakan fisik akibat hantaman material vulkanik pijar, sehingga menghambat proses pengamatan visual secara real time.
Selain suara gemuruh yang melintasi lautan ke Lampung, paparan abu vulkanik tipis dilaporkan telah menjangkau permukiman warga di wilayah Banten. Sejumlah warga di daerah terdampak mengeluhkan mata perih akibat partikel debu vulkanik yang terbawa embusan angin.
Nelayan Pesisir Selat Sunda Memilih Sandar
Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang menyebutkan getaran dentuman terasa cukup kuat hingga ke permukiman warga di Kecamatan Sumur. Situasi di perairan Selat Sunda juga membuat aktivitas melaut nelayan setempat lumpuh sementara waktu.
Para nelayan memutuskan untuk tidak melaut dan memilih menambatkan perahu di dermaga. Keputusan tersebut diambil bukan hanya karena dentuman erupsi yang terus berulang dari arah laut, melainkan juga akibat embusan angin kencang yang menyapu perairan sejak beberapa hari terakhir.