LAMPUNG — Manajemen Telkom buka suara soal masa depan NeutraDC di tengah derasnya kabar rencana divestasi. Dalam paparan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/9), Direktur Wholesale & International Service Telkom, Budi Satria Dharma Purba, menyatakan proses telah memasuki tahap lanjutan. "Proses saat ini sudah masuk ke tahap evaluasi binding offers dengan target penyelesaian pada akhir 2026," ujarnya.
Kendati demikian, Budi enggan merinci nilai transaksi maupun porsi saham yang bakal dilepas. Ia menegaskan angka valuasi yang beredar di publik hanyalah estimasi pihak eksternal, bukan keputusan resmi korporasi. "Terkait nilai ataupun porsi kepemilikan yang beredar di pasar, angka tersebut merupakan kajian atau estimasi dari pihak eksternal dan bukan merupakan angka resmi dari kami," tegas Budi.
Kabar penjualan NeutraDC pertama kali mengemuka lewat laporan Bloomberg yang mengutip sumber anonim. Emiten pelat merah ini disebut tengah menggandeng penasihat keuangan untuk mencari investor bagi bisnis pusat datanya. Target valuasi yang dipatok mencapai US$ 1 miliar hingga US$ 1,5 miliar, atau setara Rp 14,84 triliun hingga Rp 25,3 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.844 per dolar AS.
Ini bukan kali pertama Telkom menjajaki pelepasan aset digitalnya. Sebelumnya, pada 2022, BUMN telekomunikasi itu sempat mencari calon investor dengan target valuasi US$ 1 miliar. Namun, langkah tersebut belum membuahkan hasil hingga akhirnya wacana ini kembali menguat tahun ini.
Budi menegaskan bahwa prospek pertumbuhan NeutraDC masih kuat dan berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru perseroan. Permintaan pusat data diproyeksikan terus meningkat, baik di pasar domestik, regional, maupun global. Hanya saja, untuk mempercepat ekspansi, Telkom menilai perlu kehadiran mitra yang memiliki kapabilitas lebih.
"Kemudian bisa memberikan akses ke market yang lebih luas, dan yang terakhir tentunya terkait dengan funding," kata Budi menjelaskan tiga alasan utama perseroan menggandeng investor strategis. Dengan masuknya mitra baru, NeutraDC diharapkan mampu bersaing lebih agresif di industri pusat data yang kian kompetitif, termasuk melawan pemain global seperti Amazon Web Services dan Microsoft Azure yang telah berekspansi ke Indonesia.
Langkah divestasi ini dinilai sebagai strategi Telkom untuk mengunci nilai aset di tengah tingginya minat investor global terhadap infrastruktur digital. Bagi investor TLKM, masuknya mitra strategis di NeutraDC berpotensi mengurangi kebutuhan belanja modal (capex) perseroan untuk pengembangan pusat data, sekaligus membuka potensi pendapatan baru dari ekspansi bisnis yang lebih cepat.
Di sisi lain, pelepasan saham mayoritas berarti Telkom akan kehilangan kendali penuh atas NeutraDC. Namun, jika valuasi yang beredar akurat, aksi korporasi ini bisa menjadi sumber dana segar yang signifikan bagi perseroan untuk memperkuat bisnis inti telekomunikasi dan infrastruktur digital lainnya. Investor saat ini masih menunggu kepastian nilai final dan identitas mitra strategis yang akan masuk.