BANDAR LAMPUNG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar ribuan pelajar di Lampung mendapat ganjalan. Enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur penyedia MBG di wilayah tersebut dihentikan sementara operasionalnya oleh Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Lampung Bengkulu.
Keputusan ini diambil setelah dua insiden dugaan keracunan menimpa puluhan siswa di dua kabupaten berbeda dalam sepekan terakhir. Delapan siswa SMP Negeri 1 Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, dilaporkan mengalami mual, muntah, dan diare pada Rabu (22/7/2026) usai menyantap menu MBG. Mereka mendapat penanganan medis.
Belum genap sepekan, 32 siswa SD Negeri 22 Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, mengalami gejala serupa pada Jumat (24/7/2026) setelah mengonsumsi sop buah dari program yang sama. Dua SPPG yang melayani sekolah-sekolah tersebut langsung dihentikan operasionalnya sehari setelah kejadian.
Kasubbag Tata Usaha KPPG Lampung Bengkulu, Fitra Alfarisi, mengatakan penghentian itu merupakan langkah evaluasi untuk memastikan keamanan pangan bagi siswa. Dua dapur yang terkait dugaan keracunan baru bisa beroperasi lagi setelah lolos pemeriksaan makanan dan perbaikan infrastruktur.
"SPPG yang ditemukan tidak memenuhi petunjuk teknis akan diminta melakukan perbaikan, bahkan dapat dikenai penghentian sementara operasional," ujar Fitra.
Selain dua kasus tersebut, empat SPPG lain juga ikut disetop. Keempatnya adalah SPPG Jabung Negara Batin di Lampung Timur, SPPG Way Serdang Labuhan Baru dan SPPG Mesuji Sumber Makmur di Mesuji, serta SPPG Kotabumi Utara Kali Cinta di Lampung Utara. Penyebabnya, fasilitas dapur belum memenuhi standar dan dokumen administrasi yang belum lengkap.
Lampung saat ini memiliki sekitar 1.200 dapur MBG yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Jumlah sebanyak itu membuat pengawasan menjadi tantangan tersendiri. Fitra mengakui belum seluruh dapur menjalani inspeksi.
Program MBG menyasar anak-anak sekolah dengan harapan mereka bisa belajar dalam kondisi perut kenyang dan tumbuh lebih sehat. Namun, dua insiden keracunan dalam waktu berdekatan memunculkan kekhawatiran orang tua akan keamanan pangan yang disajikan.
Penghentian enam dapur di Lampung menjadi pengingat bahwa dalam program sebesar ini, kecepatan menyediakan makanan harus berjalan beriringan dengan ketelitian menjaga kualitas. Sebab bagi seorang anak, sepiring makanan bukan sekadar menu makan siang, melainkan bagian dari harapan untuk hari esok yang lebih baik.