Kabar ini pertama kali diungkap jurnalis Sylvain Trinel pada Selasa (17/6), yang menyebut gelombang PHK besar-besaran akan terjadi pada musim panas 2026. Laporan itu kemudian diperkuat oleh Paul Tassi, kontributor Forbes yang selama ini menjadi rujukan utama soal Bungie. Tassi menyebut angka pasti memang belum bisa dikonfirmasi, tapi skalanya dipastikan “signifikan”.
“Saya tidak mau menyebut persentase, tapi ini akan signifikan. Mereka tidak punya proyek baru yang sudah greenlit, dan tidak mungkin mempekerjakan 400 developer untuk Marathon,” tulis Tassi di media sosial.
Marathon adalah game extraction shooter anyar Bungie yang hingga kini belum jelas kapan rilis. Tanpa proyek besar yang bisa menyerap tenaga kerja, nasib ratusan karyawan Bungie kini menggantung.
Tassi juga memprediksi sejumlah petinggi Bungie dan staf senior akan hengkang pada Juli 2026. Momentum ini bertepatan dengan jatuh tempo pencairan dana akuisisi dari Sony.
“Kamu akan melihat beberapa petinggi dan staf original pergi pada Juli, saat uang tunai dari kesepakatan Sony cair untuk mereka,” ungkapnya. Ini menandakan gelombang eksodus talenta kunci bersamaan dengan pemangkasan lapisan bawah.
Mantan community manager Destiny 2, Liana Ruppert, memberikan konteks kelam di balik situasi ini. Ia menegaskan bahwa akuisisi Bungie oleh Sony pada 2022 bukanlah langkah strategis, melainkan “akuisisi darurat”.
Menurut Ruppert, Bungie akan “sangat dekat dengan gulung tikar” jika tidak dijual ke Sony saat itu. Ia juga mengklaim bahwa banyak uang hasil Destiny 2 tidak dikembalikan ke pengembangan game, melainkan dikantongi oleh para petinggi studio.
“Banyak uang tidak masuk ke Destiny,” kata Ruppert, menyiratkan manajemen keuangan yang buruk jauh sebelum akuisisi terjadi.
Konten terakhir Destiny 2, Monument of Triumph, baru saja dirilis pekan lalu. Meski jumlah pemain melonjak drastis dan petisi untuk Destiny 3 di Change.org telah mengumpulkan hampir 400.000 tanda tangan, masa depan waralaba ini tampak suram.
Jika PHK massal benar terjadi, mustahil Bungie bisa mempertahankan tim inti yang sukses membesarkan Destiny 2 selama hampir satu dekade. Mimpi para penggemar untuk melihat sekuel baru mungkin harus sirna—setidaknya dalam waktu dekat.
Bagi penggemar Destiny di Indonesia, kabar ini menjadi pukulan telak. Destiny 2 memiliki basis pemain setia di Tanah Air, terutama di platform Steam dan konsol PlayStation. Kekosongan live-service game berkualitas tinggi ini membuka celah bagi kompetitor, namun sekaligus menandai matinya salah satu studio legendaris industri game.