IHSG Anjlok 2,06 Persen ke 6.584, Rupiah Terperosok ke Rp 17.630 per Dolar AS di Awal Pekan

Penulis: Ferdian Syah  •  Senin, 18 Mei 2026 | 09:59:51 WIB
IHSG turun 2,06 persen ke posisi 6.584 pada awal pekan perdagangan di BEI.

JAKARTA — Suasana perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung meredup sejak bel pembukaan berbunyi. IHSG terperosok ke zona merah, meninggalkan level psikologis 6.600 yang sempat bertahan di sesi sebelumnya. Data Bloomberg pada pukul 09.00 WIB mencatat rupiah ikut tertekan, melemah 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp 17.630 per dolar AS.

Pelemahan ini tidak berdiri sendiri. Sejumlah bursa utama Asia juga kompak bergerak negatif, mencerminkan kekhawatiran investor global yang masih tinggi terhadap prospek ekonomi dan ketidakpastian suku bunga acuan.

Bursa Asia Ikut Tertekan, China Jadi Satu-satunya yang Hijau

Indeks Nikkei 225 di Jepang ambles 1,02 persen, disusul Hang Seng Hong Kong yang turun 1,06 persen. Singapura melalui Straits Times Index juga melemah 0,32 persen. Satu-satunya titik hijau datang dari Shanghai—indeks SSE Composite China berhasil naik tipis 0,06 persen, meski pergerakannya nyaris datar.

Tekanan jual di pasar regional memperkuat aksi ambil untung di pasar dalam negeri. Para analis melihat kombinasi data ekonomi AS yang masih panas dan ekspektasi suku bunga tinggi membuat investor memilih aset aman ketimbang pasar saham negara berkembang seperti Indonesia.

Dari Preopening Sudah Merah, Sentimen Negatif Menguat

Sebelum perdagangan resmi dibuka, pada sesi preopening IHSG sudah menunjukkan tanda-tanda kelemahan dengan turun 94,344 poin atau 1,40 persen ke level 6.628,976. Artinya, tekanan jual sudah terjadi sejak awal, dan tidak ada katalis positif yang cukup untuk membalikkan arah.

Pelemahan rupiah yang terus berlanjut juga menjadi perhatian pelaku pasar. Level Rp 17.630 per dolar AS mendekati titik terlemah dalam beberapa bulan terakhir, memperberat beban emiten yang memiliki utang dalam denominasi dolar atau yang bergantung pada impor bahan baku.

Apa yang Bisa Diperhatikan Investor Selanjutnya?

Pasar masih menunggu data inflasi AS terbaru dan sinyal kebijakan moneter dari Bank Indonesia pekan ini. Jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji level support berikutnya di kisaran 6.500. Namun, jika ada sentimen positif dari dalam negeri—seperti data cadangan devisa yang kuat atau intervensi BI—pemulihan tipis masih mungkin terjadi.

Untuk saat ini, investor ritel disarankan tetap waspada dan menghindari keputusan impulsif. Pergerakan pasar yang volatil seperti ini lebih cocok untuk strategi jangka menengah ketimbang transaksi harian yang spekulatif.

Reporter: Ferdian Syah
Sumber: kumparan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top