LAMPUNG — PT BAW Automobile Trading Indonesia ditunjuk sebagai mitra resmi untuk mengelola seluruh kegiatan penjualan dan distribusi di Tanah Air. Presiden Direktur perusahaan, Tocy Tang, menyebut Indonesia sebagai pasar kunci sekaligus gerbang menuju industri setir kanan di Asia Tenggara. “Dengan pengalaman selama 75 tahun, kami berkomitmen menghadirkan solusi mobilitas yang andal, cerdas, dan terjangkau,” ujarnya dalam rilis resmi yang diterima redaksi.
Lima Model dengan Segmen Berbeda
BAW tidak main-main dalam pilihan produk perdananya. Kelima model yang bakal dipamerkan di GIIAS 2026 mencakup berbagai kebutuhan, dari kendaraan penumpang hingga niaga. Berikut daftarnya:
- M8 – MPV listrik premium untuk keluarga
- T01 – kendaraan off-road dengan sasis tangguh
- X03 – SUV yang mengisi segmen petualang perkotaan
- D5 – mobil listrik kompak untuk mobilitas harian di kota
- T10 Pro – kendaraan niaga listrik yang ditargetkan untuk UMKM, logistik, dan jasa kurir
Segmen Niaga Jadi Pembeda Strategi
Yang menarik dari strategi BAW adalah fokusnya pada kendaraan niaga listrik. Lewat T10 Pro, mereka membidik pelaku usaha kecil hingga perusahaan distribusi yang membutuhkan armada operasional rendah emisi. Langkah ini cukup cerdas mengingat pasar kendaraan listrik Indonesia selama ini didominasi model penumpang seperti city car dan SUV.
Pertumbuhan sektor logistik dan perdagangan digital di Indonesia dinilai menjadi alasan kuat BAW masuk ke segmen ini. Dengan T10 Pro, perusahaan berharap bisa menjawab kebutuhan efisiensi biaya operasional sekaligus mendukung target pengurangan emisi di sektor distribusi.
Perakitan Lokal dan Ekosistem Purna Jual
Setelah GIIAS 2026, BAW akan fokus pada pembangunan ekosistem bisnis jangka panjang. Rencana perakitan knock-down (KD) di Indonesia menjadi prioritas utama untuk memperkuat rantai pasok domestik dan meningkatkan tingkat kandungan lokal (TKDN). Selain itu, perluasan jaringan dealer dan penguatan layanan purna jual juga masuk dalam agenda awal.
Keputusan ini menunjukkan bahwa persaingan kendaraan listrik di Indonesia tidak lagi semata-mata soal meluncurkan produk baru. Kemampuan membangun investasi, infrastruktur, dan kepercayaan pelanggan lewat layanan purna jual menjadi faktor penentu. BAW tampaknya sadar betul bahwa untuk bertahan di pasar Indonesia, sekadar membawa model terbaru tidak cukup.