LAMPUNG — Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kebijakan otoritas AS tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Departemen Keuangan AS berencana melipatgandakan buyback surat berharga negara (Treasury) jangka panjang menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi selama kuartal mendatang untuk menekan imbal hasil (yield).
"Secara sentimen eksternal, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan melipatgandakan buyback surat berharga negara (Treasury) jangka panjang menjadi setidaknya 4 miliar dolar AS per operasi selama kuartal mendatang untuk menurunkan imbal hasil," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Jumat (21/8/2026).
Pemerintah AS dinilai masih membuka peluang meningkatkan pembelian tersebut karena menganggap tingkat yield saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi. Pelonggaran biaya pinjaman jangka panjang di AS ini diharapkan dapat menahan penguatan dolar AS secara global, sehingga memberi ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak positif.
Kredit Perbankan Tumbuh 13,58% Menopang Kurs
Dari dalam negeri, penguatan rupiah juga disokong intermediasi perbankan yang tetap solid. Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan nasional tumbuh 13,58 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli 2026, meningkat dibandingkan capaian Juni 2026 yang sebesar 12,67 persen.
Kinerja tersebut ditopang bauran kebijakan makroprudensial akomodatif BI serta ketahanan modal perbankan yang kuat. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat di level 23,70 persen, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) berada di angka 2,09 persen secara bruto.
CAD Kuartal II-2026 Melebar Jadi 3,3% dari PDB
Meski menguat, pasar tetap mencermati risiko eksternal. BI mencatat defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) sebesar US$12,5 miliar pada kuartal II 2026, setara 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Ibrahim menjelaskan, pelebaran CAD terutama dipicu oleh peningkatan defisit neraca perdagangan migas akibat tingginya harga minyak dunia. Di sisi lain, surplus nonmigas turun seiring meningkatnya impor untuk menopang aktivitas ekonomi domestik, serta kenaikan defisit pendapatan primer.
Ancaman El Niño terhadap Inflasi Pangan
Faktor lain yang diwaspadai pasar adalah potensi tekanan inflasi pangan akibat anomali iklim. Fenomena El Niño berpotensi mengganggu produktivitas pertanian nasional apabila tidak diantisipasi dengan baik, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.
"Kekhawatiran terhadap inflasi pangan akibat El Niño sangat beralasan karena fenomena kekeringan panjang dapat menurunkan produksi pertanian, sehingga pasokan beras dan komoditas lain berkurang. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga barang yang pada akhirnya berisiko menggerus daya beli serta tingkat kepercayaan masyarakat," kata dia.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Pekan Depan
Dengan mempertimbangkan sentimen penurunan yield Treasury AS, solidnya pertumbuhan kredit perbankan, serta risiko dari dinamika pangan dan transaksi berjalan, Ibrahim menilai rupiah masih memiliki ruang untuk menguat. Untuk perdagangan Senin pekan depan, mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.640 hingga Rp17.700 per dolar AS.
Adapun untuk pergerakan sepekan ke depan, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.600 sampai Rp17.900 per dolar AS. Investasi mengandung risiko.