LAMPUNG — Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja NPI pada periode April-Juni 2026 masih berada di zona negatif, namun tekanan eksternal mulai mereda. Defisit US$ 900 juta tersebut berbanding terbalik dengan catatan triwulan I 2026 yang sempat jeblok hingga US$ 9,1 miliar, dipicu gejolak pasar keuangan global.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan kinerja ini tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Menurutnya, arus modal asing yang masuk menjadi penyelamat utama, sementara cadangan devisa bertahan di level aman.
Defisit Transaksi Berjalan: Impor Migas dan Nonmigas Jadi Biang Kerok
Pelebaran defisit transaksi berjalan dari US$ 3,6 miliar (1,0% PDB) menjadi US$ 12,5 miliar (3,3% PDB) dipicu oleh tiga faktor utama yang diprakirakan bersifat temporer. Pertama, defisit neraca perdagangan migas meningkat seiring melonjaknya impor minyak akibat harga minyak dunia yang tinggi.
Kedua, surplus neraca perdagangan nonmigas justru tergerus karena impor bahan baku dan barang modal untuk kegiatan ekonomi domestik yang masih kuat. Ketiga, defisit neraca pendapatan primer ikut melebar sejalan dengan pembayaran dividen dan bunga utang ke luar negeri, sementara surplus pendapatan sekunder relatif stabil.
Investasi Langsung dan Portofolio Jadi Penopang Utama NPI
Perbaikan NPI tidak lepas dari lonjakan surplus transaksi modal dan finansial yang mencapai US$ 12 miliar, berbalik dari defisit US$ 4,8 miliar pada triwulan sebelumnya. Ramdan menjelaskan investasi langsung mencatat surplus lebih tinggi, didorong persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi dan iklim investasi domestik.
Investasi portofolio juga tumbuh signifikan seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik minat asing. Sementara itu, pos investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Cadangan Devisa Bertahan di US$ 145,6 Miliar, Aman dari Standar Internasional
Posisi cadangan devisa akhir Juni 2026 tercatat sebesar US$ 145,6 miliar, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Level ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Ketahanan eksternal ini dinilai cukup solid untuk menghadapi gejolak nilai tukar rupiah dan memenuhi kewajiban pembayaran luar negeri jangka pendek.
Proyeksi ke Depan: Ekspor Membaik, Tarif AS Turun
BI memproyeksikan prospek NPI ke depan tetap baik. Defisit transaksi berjalan diprakirakan akan menyempit didukung perbaikan ekspor sejalan kenaikan harga komoditas global, termasuk komoditas unggulan Indonesia, serta dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).
"Sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," ujar Ramdan dalam keterangan tertulis, Jumat (21/8/2026).
Adapun transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap surplus, ditopang berlanjutnya aliran masuk modal asing seiring imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik dan prospek ekonomi Indonesia yang positif.