PESISIR BARAT — Rangkaian acara dimulai dengan pawai dakwah yang diikuti pelajar, organisasi keagamaan, majelis taklim, hingga komunitas masyarakat dari berbagai kecamatan. Pawai tersebut menjadi pembuka sebelum Tabligh Akbar digelar.
Bupati Pesisir Barat, Dedi Irawan, mengatakan peringatan Tahun Baru Islam bukan sekadar penanda pergantian kalender Hijriah. Menurut dia, momen ini menjadi refleksi bagi umat Islam untuk memperbaiki kualitas diri dan kehidupan bermasyarakat.
Semangat Hijrah dan Perbaikan Diri
Bupati menekankan bahwa semangat hijrah yang diwariskan Rasulullah SAW mengandung nilai-nilai perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Perubahan itu, kata dia, tidak hanya terkait hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga hubungan sosial antarsesama.
Harapan Jadi Pusat Peradaban Islam
K.H. M. Muslih mengapresiasi dukungan Pemkab Pesisir Barat terhadap penyelenggaraan kegiatan keagamaan. Menurutnya, komitmen pemerintah daerah dalam menggelar Tabligh Akbar menunjukkan perhatian terhadap pembinaan kehidupan spiritual masyarakat.
Ia berharap Kabupaten Pesisir Barat dapat berkembang menjadi salah satu pusat peradaban Islam di Provinsi Lampung pada masa mendatang. Untuk mewujudkannya, masyarakat diajak terus mendukung kegiatan keagamaan sekaligus menjaga dan melestarikan budaya lokal.
Ngumbai Lawok dan Identitas Budaya Pesisir
Menurut Muslih, agama dan budaya merupakan dua unsur yang saling melengkapi dalam membangun peradaban masyarakat. Ia mengibaratkan budaya sebagai jasad dan agama sebagai ruh yang memberikan arah serta makna.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung pentingnya menjaga tradisi Ngumbai Lawok sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir Lampung. Berdasarkan sejumlah literatur, tradisi sedekah laut ini memiliki akar sejarah yang berkaitan dengan cara masyarakat Lampung mempertahankan nilai-nilai kemandirian pada masa kolonial.
Masyarakat saat itu, kata Muslih, lebih memilih menyalurkan hasil dan rasa syukur kepada alam melalui tradisi sedekah laut daripada menyerahkan upeti kepada pemerintah kolonial Belanda. Karena itu, Ngumbai Lawok tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga mengandung pesan historis tentang kearifan lokal, solidaritas sosial, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.