LAMPUNGVOICE.COM — Warga di Lampung diimbau tidak menyapu kering abu vulkanik Gunung Anak Krakatau guna mencegah partikel halus kembali berhamburan ke udara dan mengganggu pernapasan. Sejumlah dokter dan lembaga kesehatan menyarankan warga menyiram permukaan lantai dengan air serta menutup rapat tempat penampungan air dan bahan pangan. Imbauan mitigasi ini menyusul sebaran abu letusan yang membubung hingga ketinggian 50.000 kaki dan menjangkau enam provinsi.
Partikel abu vulkanik memiliki karakteristik sangat halus sehingga mudah beterbangan dan terhirup masuk ke saluran pernapasan manusia. Langkah pembersihan yang keliru justru memicu risiko infeksi saluran pernapasan akut maupun iritasi mata bagi penghuni rumah.
Jangan Disapu Kering, Gunakan Air Mengalir
Pembersihan material abu vulkanik di area rumah harus dilakukan dengan membasahi permukaan terlebih dahulu. Menyiram lantai dengan air atau mengusap permukaan perabot menggunakan lap basah akan membuat partikel abu langsung mengendap dan tidak beterbangan.
Selama proses pembersihan berlangsung, warga diwajibkan tetap mengenakan masker respirator dan kacamata pelindung. Masker respirator tipe N95 atau FFP2 disarankan karena mampu menutup rapat area hidung, mulut, hingga dagu dari serbuan partikel mikro.
Untuk perlindungan mata, gunakan kacamata pelindung atau goggles. Warga dilarang mengucek mata saat terasa kelilipan dan tidak disarankan memakai lensa kontak selama lingkungan masih terpapar abu vulkanik.
Cara Menjaga Sumber Air dan Makanan dari Paparan Abu
Selain kebersihan lantai dan dinding, perlindungan terhadap pasokan konsumsi harian menjadi prioritas utama. Warga diminta segera menutup rapat seluruh tandon, sumur, wadah penampungan air, serta tempat penyimpanan makanan.
Jika sumber air warga terlanjur terpapar abu hingga menjadi keruh, air tersebut tidak boleh langsung dikonsumsi. Biarkan air mengendap terlebih dahulu hingga partikel abu terpisah di dasar wadah sebelum air bagian atasnya dialirkan atau digunakan.
Aktivitas memasak dan makan sebaiknya dipusatkan di dalam ruangan tertutup guna menghindari kontaminasi silang dari debu vulkanik yang terbawa hembusan angin.
Protokol Kesehatan dan Batasi Aktivitas Luar Ruang
Dokter Tirta menegaskan pentingnya perlindungan fisik bagi masyarakat di wilayah terdampak sebaran abu.
"Kewajiban memakai masker setiap kali beraktivitas di luar rumah," ujar dr. Tirta.
Ia juga menyarankan warga segera mencuci wajah dengan facial wash lembut usai terpapar abu di luar rumah. Terkait bau sulfur yang menyengat saat erupsi berlangsung, warga diminta untuk tetap tenang dan tidak panik.
Pemeriksaan medis harus segera dilakukan apabila warga mengalami gangguan fisik yang parah. Segera periksa ke dokter jika timbul "sesak napas berat, pusing hebat, atau iritasi yang tidak kunjung reda".
Aktivitas olahraga luar ruangan sebaiknya dialihkan sementara ke dalam ruangan tertutup. Pintu dan jendela rumah harus selalu tertutup rapat guna membatasi ruang gerak abu masuk ke kamar hunian.
Teknik Mencuci Kendaraan yang Terpapar Abu Vulkanik
Bagi warga yang memiliki kendaraan bermotor, abu vulkanik memiliki sifat abrasif tajam yang berpotensi merusak cat dan kaca. Bodi mobil atau motor tidak boleh langsung diseka kain lap atau disapu kemoceng dalam keadaan kering.
Bilas bodi kendaraan menggunakan semprotan air mengalir untuk melunturkan seluruh butiran pasir halus sebelum dilap. Pengemudi juga diminta menutup rapat kaca jendela dan menyalakan sirkulasi udara internal AC saat melintas di jalanan berdebu.
Kecepatan kendaraan perlu dikurangi karena lapisan abu membuat permukaan aspal menjadi licin serta mengurangi jarak pandang. Status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada di Level III (Siaga) dengan rekomendasi radius bahaya 3 kilometer dari kawah aktif. Warga diimbau terus memantau perkembangan terkini lewat kanal resmi PVMBG, BMKG, BNPB/BPBD, dan pemerintah daerah.