LAMPUNG TENGAH — Seusai menjalani agenda politik selama tiga hari di Provinsi Lampung, Presiden ke-7 RI Joko Widodo memilih Pondok Pesantren Nurul Qodiri sebagai titik akhir kunjungannya sebelum kembali ke Solo. Kedatangannya pada Sabtu (27/6/2026) itu disambut antusias oleh ribuan santri dan warga yang sudah berjejer sejak pagi untuk bersalaman dan mengabadikan momen.
Dalam kesempatan tersebut, Jokowi tampil dengan busana muslim lengkap, mengenakan peci hitam dan sorban hijau. Meski sempat menolak secara halus saat diminta memberikan sambutan, ia akhirnya berdiri di podium dan menyampaikan pesan yang langsung mencuri perhatian para hadirin.
‘Saya Tetap Wong Ndeso’
Di hadapan para kiai dan santri, Jokowi menegaskan bahwa jabatan yang pernah diembannya tidak lantas mengubah lingkungan tempat tinggal maupun identitasnya sebagai orang desa. “Lingkungan saya tetap seperti dulu. Saya berasal dari kampung dan tidak pernah jauh dari kehidupan masyarakat,” ucapnya.
Pernyataan itu sontak disambut tepuk tangan meriah dari para santri dan tokoh masyarakat yang hadir. Bagi Jokowi, kesederhanaan bukan sekadar citra, melainkan cara hidup yang ia pertahankan sejak sebelum menjadi presiden hingga kini.
Rumah di Solo Tak Pernah Sepi
Dalam sambutannya, Jokowi juga bercerita bahwa rumah pribadinya di Solo kerap didatangi masyarakat dari berbagai daerah, termasuk dari Lampung. Banyak dari mereka yang datang hanya untuk bertemu langsung atau menyampaikan salam dari keluarga di kampung halaman.
Menurut Jokowi, kedekatan semacam inilah yang menjadi alasan mengapa Lampung dipilih sebagai daerah pertama dalam agenda safari politiknya setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. “Banyak yang datang ke Solo, jadi saya rasa penting untuk balas silaturahmi ke sini,” katanya.
Agenda Tiga Hari yang Padat
Selama berada di Lampung sejak Jumat (26/6/2026), Jokowi mengisi waktunya dengan berbagai kegiatan. Mulai dari konsolidasi internal Partai Solidaritas Indonesia (PSI), pertemuan dengan tokoh masyarakat dan pelaku UMKM, hingga menerima gelar adat dari tokoh setempat.
Para pengamat menilai safari politik ini merupakan bagian dari upaya Jokowi memperkuat komunikasi politik menjelang kontestasi mendatang. Namun, bagi para pendukung yang hadir di Ponpes Nurul Qodiri, pesan yang paling membekas bukanlah soal politik, melainkan keteguhan Jokowi untuk tetap rendah hati.
“Jabatan boleh berakhir, tetapi identitas dan kedekatan dengan masyarakat tetap ingin dipertahankan. Itu yang kami lihat dari beliau,” ujar salah seorang santri yang hadir.