LAMPUNG — Mata uang Garuda tercatat turun 0,21 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri—hampir seluruh mata uang Asia kompak tertekan. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,71 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,18 persen, dan baht Thailand turun 0,17 persen.
Di kawasan negara maju, euro, poundsterling, dan franc Swiss juga berada di zona merah. Kondisi ini menandakan dominasi dolar AS masih kuat di pasar keuangan global pagi ini.
Konflik Timur Tengah dan Data Domestik Jadi Beban Ganda
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah saat ini bergerak dalam fase konsolidasi. Dua faktor utama menjadi penekan: perang dagang AS-Iran yang belum menemui titik terang dan antisipasi data ekonomi domestik.
"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).
Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS pada hari ini. Harga minyak yang mulai menurun disebut bisa menjadi katup penyelamat bagi nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
BI: Kebutuhan Valas Musiman Ikut Menekan Rupiah
Bank Indonesia mencatat tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan, kebutuhan dolar AS secara musiman ikut meningkat—terutama untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen.
"Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5) pekan lalu.
Arus masuk dolar AS yang terbatas di tengah lonjakan permintaan membuat posisi rupiah semakin tertekan. BI memastikan tetap hadir di pasar melalui intervensi di berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas kurs.
"Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan.
Yang Perlu Dicermati Pelaku Pasar Hari Ini
Dengan rentang pergerakan yang diprediksi cukup sempit, pelaku bisnis dan investor disarankan mencermati dua hal. Pertama, perkembangan negosiasi AS-Iran yang bisa memicu perubahan sentimen secara tiba-tiba. Kedua, data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia besok yang akan menjadi acuan arah kebijakan moneter ke depan.
Jika inflasi terkendali dan neraca dagang tetap surplus, rupiah berpotensi kembali menguat menuju level psikologis Rp17.700. Sebaliknya, bila data mengecewakan, tekanan jual terhadap rupiah bisa berlanjut.
Investasi mengandung risiko.