BANDAR LAMPUNG — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal membeberkan sejumlah program strategis yang tengah dijalankan untuk mendongkrak produktivitas pertanian daerah. Targetnya, hasil panen padi bisa naik dari rata-rata 5 ton menjadi 8 ton per hektare.
"Kita tidak boleh berhenti pada produktivitas hari ini. Kalau produktivitas padi bisa naik dari 5 ton menjadi 8 ton per hektare, maka pendapatan petani juga akan meningkat signifikan," ujar Mirza, sapaan akrabnya, Rabu (27/5/2026).
Empat Pilar Program Strategis Pemprov Lampung
Pemprov Lampung memfokuskan penguatan sektor pertanian pada empat pilar utama. Pertama, pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi untuk menjamin ketersediaan air sepanjang musim tanam. Kedua, penyediaan dryer jagung guna menekan susut pasca-panen.
Ketiga, penguatan distribusi pupuk agar tepat sasaran dan tepat waktu. Keempat, modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi. Hilirisasi produk pertanian juga menjadi perhatian agar nilai tambah dinikmati petani di hulu.
Harga Gabah Naik, Pupuk Mulai Tersedia
Selain program jangka panjang, perbaikan tata niaga mulai membuahkan hasil. Mirza menyebut harga gabah kini dijaga di angka Rp6.500 per kilogram. Kelangkaan pupuk yang selama bertahun-tahun menjadi momok bagi petani juga mulai teratasi.
"Hari ini harga gabah dijaga 6.500 per kilogram, pupuk mulai tersedia, dan tata niaga mulai dibenahi. Dampaknya, pendapatan petani meningkat dan ekonomi daerah mulai bergerak lebih baik," ujarnya.
Dulu Petani Hanya Bertahan Hidup
Kondisi ini berbanding terbalik dengan masa lalu. Mirza mengakui, selama puluhan tahun petani Lampung hanya bertani untuk bertahan hidup. Harga gabah rendah saat panen raya, pupuk sulit didapat, dan keuntungan lebih banyak dinikmati tengkulak.
"Dulu petani kita hanya bertani untuk bertahan hidup. Harga gabah rendah, pupuk sulit, harga hasil panen jatuh saat musim panen raya, sementara keuntungan petani sangat kecil," kenang Mirza.
Lumbung Pangan untuk Sumatera dan Jakarta
Lampung memiliki sekitar 1,2 juta hektare lahan pertanian produktif. Tiga komoditas utama—padi, jagung, dan singkong—menopang pasokan pangan ke Sumatera dan DKI Jakarta. Jagung Lampung menjadi bahan baku pakan ternak nasional, berasnya menyuplai berbagai daerah, dan singkongnya menopang industri tapioka.
"Ini adalah kekuatan besar yang harus terus kita jaga dan tingkatkan," tegas Mirza.
Ia menambahkan, peningkatan kesejahteraan petani sudah mulai terlihat dari meningkatnya daya beli di sentra pertanian. Penjualan kendaraan bermotor naik dan semakin banyak anak petani yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Ketika petani sejahtera, ekonomi desa bergerak. Anak-anak petani bisa sekolah lebih tinggi, konsumsi masyarakat meningkat, dan kualitas hidup masyarakat ikut membaik," pungkasnya.