Gubernur Lampung Targetkan 82 Bed Dryer pada 2026, Nilai Tambah Jagung Capai Rp407 per Kilogram

Penulis: Syaiful Bahri  •  Sabtu, 24 Oktober 2026 | 05:01:31 WIB
Gubernur Lampung menargetkan 82 unit bed dryer pada 2026 untuk mendorong nilai tambah jagung dan gabah di sentra produksi.

BANDAR LAMPUNG — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memaparkan capaian nilai tambah bruto dari penggunaan bed dryer dalam Seminar Teknologi, Akuntansi, Bisnis, Ekonomi, dan Komunitas (STABEK 9) di Bandar Lampung, Kamis (22/10/2026). Angka Rp407 per kilogram untuk jagung dan Rp271 per kilogram untuk gabah itu menjadi dasar dorongan penggunaan teknologi pengeringan di sentra produksi.

Pada 2025, Pemprov Lampung telah menyalurkan 34 unit bed dryer. Penyaluran tahun berikutnya direncanakan mencapai 82 unit yang tersebar di 12 kabupaten dan satu kota.

Meski target sudah ditetapkan, data jumlah unit yang telah disalurkan, beroperasi, maupun masih dalam proses pengadaan hingga 23 Oktober 2026 belum dirinci dalam informasi resmi terbaru. Target 82 unit belum bisa disamakan dengan realisasi fasilitas yang sudah bisa dipakai petani.

Mengapa Bed Dryer Dibutuhkan Petani Lampung

Kadar air yang tinggi pada jagung dan gabah menurunkan mutu hasil panen dan memengaruhi harga jual. Selama ini petani bergantung pada panas matahari untuk mengeringkan hasil panen, proses yang terhambat ketika hujan turun.

Teknologi bed dryer memindahkan proses pengeringan lebih dekat ke sentra produksi. Pengeringan yang lebih terkontrol berpotensi menjaga kualitas komoditas dan mempercepat penanganan pascapanen.

Program Desaku Maju menjadi kendaraan Pemprov Lampung untuk mendorong fasilitas itu menjangkau kelompok tani di daerah penghasil.

Nilai Tambah Rp407 per Kilogram Bukan Keuntungan Bersih

Angka Rp407 per kilogram jagung dan Rp271 per kilogram gabah merupakan nilai tambah bruto, bukan tambahan keuntungan bersih yang otomatis diterima setiap petani. Hasil akhirnya masih dipengaruhi biaya operasional, energi, tenaga kerja, pemeliharaan mesin, dan tata kelola fasilitas.

Karena itu, pengukuran manfaat program perlu disertai data pemanfaatan mesin, volume panen yang dikeringkan, perubahan harga jual, serta biaya yang ditanggung kelompok tani.

Pringsewu Jadi Salah Satu Lokasi Penerima 2026

Desa Sumber Agung dan Desa Tanjung Anom, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, telah diberitakan menerima fasilitas pada 2026. Gubernur Lampung juga meninjau penggunaan bed dryer di Desa Sumber Agung pada Agustus 2026.

Dua desa itu menjadi contoh awal, sementara lokasi penerima lainnya menunggu kepastian jadwal penyaluran dari pemerintah provinsi.

Yang Masih Dibutuhkan Petani: Jadwal dan Kesiapan Operator

Tantangan berikutnya bagi Pemprov Lampung adalah memastikan teknologi tidak berhenti sebagai bantuan fisik. Kepastian jadwal penyaluran, kesiapan operator, dan akses kelompok tani menentukan apakah investasi menghasilkan manfaat berkelanjutan.

Dengan target 82 unit pada 2026, petani membutuhkan kejelasan soal lokasi penerima, progres distribusi, dan kapan fasilitas dapat digunakan. Keberhasilan program tidak hanya dihitung dari jumlah mesin yang direncanakan, tetapi dari seberapa nyata teknologi membantu petani menjaga mutu panen dan meningkatkan pendapatan.

Reporter: Syaiful Bahri
Sumber: radartvnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top