Kunjungan Xi Jinping ke AS Hasilkan Kesepahaman AI dan Perdagangan, Pengamat Sebut Stabilitas Global Menguat

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Senin, 28 September 2026 | 05:02:01 WIB
Kunjungan kenegaraan Xi Jinping ke Amerika Serikat berlangsung pada 23–25 September.

BEIJING — Kunjungan kenegaraan Xi Jinping ke Amerika Serikat berlangsung selama tiga hari, 23 hingga 25 September. Dalam pertemuan itu, Xi dan Trump bertukar pandangan secara mendalam dan mencapai banyak kesepahaman mengenai isu-isu utama hubungan Tiongkok-AS, perdamaian, dan pembangunan dunia.

Salah satu hasil konkret pertemuan adalah kesepahaman bersama untuk mempertahankan dialog dan memperkuat kerja sama di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kesepahaman ini dinilai menjadi titik awal eksplorasi kerja sama teknologi antara dua ekonomi terbesar dunia.

Jebakan Thucydides dan Visi Hubungan Bilateral

Dalam kunjungannya, Xi menekankan bahwa Jebakan Thucydides dapat diatasi. Ia menyatakan pencapaian peremajaan besar bangsa Tiongkok dan upaya menjadikan Amerika hebat kembali dapat berjalan beriringan.

Gu Qingyang, associate professor di Lee Kuan Yew School of Public Policy, Universitas Nasional Singapura, menilai pernyataan itu menunjukkan visi Tiongkok yang lebih luas. Menurutnya, Tiongkok memandang hubungan bilateral dari perspektif pembangunan kedua negara dan dunia secara keseluruhan, bukan mengejar permainan bermentalitas menang-kalah (zero-sum).

Gu menambahkan, pendekatan itu sekaligus mewujudkan logika kerja sama budaya Tiongkok. Saat bertemu Trump, Xi menyebut kedua negara perlu berupaya menuju hubungan yang menjadikan kerja sama sebagai unsur utama, persaingan yang moderat, perbedaan yang dapat dikelola, dan janji perdamaian.

Sinyal Stabilitas bagi Perekonomian Global

Cendekiawan AS Robert Lawrence Kuhn menyebut pencapaian utama pertemuan puncak Xi-Trump adalah sinyal kuat bahwa para pemimpin dua negara besar dunia tetap dapat bertemu dalam suasana harmonis dan semangat positif, sembari mengakui adanya persaingan.

"Hubungan Tiongkok-AS yang stabil dan konstruktif kini merupakan kebaikan global, yang memengaruhi perdamaian internasional dan stabilitas ekonomi," ujar Kuhn.

Cavince Adhere, cendekiawan hubungan internasional yang berbasis di Kenya, menilai kerja sama Tiongkok-AS yang lebih kuat sangat penting bagi pembangunan global. Menurutnya, kerja sama itu memulihkan prediktabilitas bagi dua ekonomi terbesar dunia, menurunkan hambatan perdagangan, dan menciptakan ruang untuk mengatasi tantangan bersama.

"Menjaga persaingan dalam batas-batas yang dapat dikelola dapat membantu menciptakan kondisi untuk stabilitas keseluruhan dalam hubungan bilateral dan untuk kerja sama di bidang-bidang seperti perdagangan dan ekonomi, perubahan iklim, serta kesehatan masyarakat," kata Adhere.

Kerja Sama AI: Awal Eksplorasi, Bukan Akhir Tantangan

Kesepahaman di bidang AI menjadi salah satu butir yang disoroti pengamat teknologi. Jinrui Zhang, ilmuwan AI senior di Shell di Belanda, menilai konsensus tersebut bukan akhir dari tantangan, melainkan awal dari eksplorasi jalan yang tepat ke depan.

Zhang menyebut kerja sama Tiongkok dan AS untuk mencegah penyalahgunaan dan pelanggaran dapat membantu merancang arah yang jelas bagi pengembangan AI yang bertanggung jawab dan tertib. Dua negara dinilai memiliki kapasitas untuk menetapkan standar yang memengaruhi tata kelola teknologi global.

Kunjungan tiga hari itu meninggalkan sejumlah pekerjaan rumah bagi kedua pemerintahan. Dialog yang disepakati akan menjadi kanal utama untuk menerjemahkan berbagai kesepahaman menjadi kebijakan konkret, termasuk di sektor perdagangan dan teknologi.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: web.lintaslampung.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top