Kanwil Kemenag Lampung Instruksikan Pesantren dan Madrasah Gelar Nobar Film Ageman

Penulis: Khairul Anwar  •  Kamis, 24 September 2026 | 12:31:01 WIB
Kepala Kanwil Kemenag Lampung Zulkarnain menerima kru dan talent Film Ageman di Aula Pepadun Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung.

BANDAR LAMPUNG — Kepala Kanwil Kemenag Lampung Zulkarnain menilai film Ageman sangat edukatif bagi masyarakat Lampung yang majemuk dan plural. Penilaian itu menjadi dasar instruksi kepada jajaran kepala madrasah dan pimpinan pondok pesantren se-Lampung untuk mengagendakan pemutaran sekaligus diskusi film tersebut.

Dukungan Kanwil Kemenag Lampung disampaikan langsung dalam pertemuan dengan kru dan talent Film Ageman. Pertemuan berlangsung di Aula Pepadun Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung.

Ageman, Film Moderasi Beragama dari Kisah Eks Radikalisme

Film Ageman merupakan karya visual sinematik yang mengangkat moderasi beragama dan nilai toleransi di Indonesia. Secara filosofis, kata Ageman diserap dari bahasa Jawa, Sunda, dan Bali yang berarti pakaian, pedoman, atau keyakinan.

Judul itu menyimpan pesan bahwa identitas suku, agama, ras, dan budaya merupakan amanah yang melekat sejak lahir untuk saling melengkapi. Perbedaan itu bukan alasan memicu kebencian.

Film ini mengangkat kisah inspiratif perjalanan hidup Ken Setiawan, eks radikalisme yang insyaf dan kini mendedikasikan hidupnya untuk menyuarakan moderasi beragama. Ia juga mengampanyekan pencegahan intoleransi, radikalisme, serta terorisme di tengah masyarakat.

Analogi Alat Musik: Harmoni Lahir dari Perbedaan

Zulkarnain mengatakan, pesan toleransi yang diangkat film tersebut relevan dengan semangat moderasi beragama. Menurut dia, keberagaman keyakinan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu dikelola dengan sikap saling menghormati.

Ia mengibaratkan keberagaman seperti sebuah pertunjukan musik. Menurut dia, harmoni justru lahir dari berbagai alat musik yang memiliki karakter berbeda.

"Ketika ada alat musik petik, alat musik tiup, piano atau keyboard, kemudian semuanya saling memahami dan mengambil peran, maka tercipta harmoni dan keindahan," ujarnya.

Analogi tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang agama, budaya, dan pandangan beragam. Zulkarnain menyatakan siap mendukung dan terus konsisten mendorong penguatan moderasi beragama serta peningkatan toleransi antarumat beragama di Lampung.

Menurut dia, medium visual seperti film Ageman bisa dijadikan instrumen penting untuk membumikan nilai-nilai kerukunan. Tujuannya menjaga Lampung tetap damai dan kondusif.

Harapan Produser: Pesan Inklusif Mengetuk Seluruh Lapisan Masyarakat

Eksekutif Produser Film Ageman sekaligus Ketua FKPT Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, berharap pesan inklusif dalam film ini dapat mengetuk hati seluruh lapisan masyarakat.

"Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghargai di tengah perbedaan. Harapannya, Indonesia tetap damai dan kondusif tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme," pungkas Firsada.

Melalui perjalanan hidup Ken Setiawan yang inspiratif, film ini diharapkan menjadi media edukasi yang menyentuh dan memberikan pemahaman mendalam bagi semua kalangan.

Reporter: Khairul Anwar
Sumber: web.lintaslampung.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top