LAMPUNG — Ferit Karahan kembali ke panggung festival internasional lewat Djinn Wedding (Cinlerin Dü?ünü). Film yang ia tulis dan sutradarai sendiri ini akan tayang perdana dunia di TIFF, masuk dalam kompetisi Platform.
Ini merupakan proyek lanjutan setelah Brother's Keeper, yang membawa Karahan meraih Fipresci Award di seksi Panorama Berlin Film Festival. Luxbox dipercaya menangani penjualan internasional film ini.
Djinn Wedding bergenre realisme magis, memadukan cerita keluarga, sejarah, dan folklor Anatolia. Alurnya mengikuti empat saudara kandung dalam tiga periode waktu berbeda.
Rahasia gelap dan trauma masa lalu mereka mulai terkuak saat sebuah pernikahan keluarga berlangsung. Film ini mengangkat tema universal soal kehilangan, rasa bersalah, dan duka.
Deretan pemain yang terlibat antara lain Demit Özdemir, Kaan Yildirim, ?lhan ?en, Sarp Bozkurt, Helin Kandemir, dan Evliya Aykan. Rumah produksi yang menangani proyek ini adalah Ferit Karahan Film, Royal Pictures, Maya Films, dan Arya Yapim.
Karahan menjelaskan, dalam budaya Anatolia dan sejumlah budaya Islam, djinn digambarkan sebagai makhluk tak kasatmata yang hidup di dunia yang sama dengan manusia.
"Stories about them are often intertwined with the night, abandoned places, thresholds, weddings and death. I grew up in a region where these stories were still very much alive," ujar Karahan kepada Variety.
Ia menyebut cerita soal djinn, mimpi, dan legenda bukan pelarian dari kenyataan. Sebaliknya, elemen surealis itu dipakai untuk membuat realitas yang keras jadi lebih bisa diceritakan dan ditanggung.
Sebelum mulai menulis, Karahan menyimpan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Bunyinya: "Can a person who refuses to acknowledge their own darkness ever truly change their fate?"
Menurutnya, hal paling berbahaya dari manusia bukanlah dorongan gelap seperti ketamakan, kecemburuan, atau hasrat akan kekuasaan. Bahaya sesungguhnya justru muncul saat semua itu disangkal keberadaannya.
"The real danger is denying that they exist," kata Karahan, yang mengaitkannya dengan konsep "shadow" milik Carl Jung.
Karahan mengaku saat ini masyarakat Turki hidup dalam suasana ketakutan. Orang-orang tidak tahu apa yang akan terjadi esok, bahkan terhadap diri mereka sendiri.
"The resurgence of the far right in Europe inevitably makes me think of the 1920s and 1930s," ujarnya, menyoroti bagaimana ketakutan kembali dipakai sebagai alat politik di banyak belahan dunia.
Kondisi ekonomi Turki, migrasi, pengangguran, dan akses pendidikan yang menyusut, menurut Karahan, terasa lebih keras di kota-kota kecil. Karena itu ia menolak kotanya dalam film dianggap sebagai dunia folklor yang tertinggal di masa lalu.
Soal kaitan dengan Brother's Keeper, Karahan melihat pergeseran sumber penindasan. Jika di film sebelumnya penindasan datang dari sekolah dan sistem orang dewasa, di Djinn Wedding tekanan itu sudah meresap ke dalam keluarga, ingatan, bahkan cara orang saling mencintai.
Djinn Wedding juga dinilai lebih autobiografis. Salah satu adegannya, di mana sang ibu ditempatkan dalam kuali besar berisi air panas, diambil dari pengalaman Karahan saat berusia sembilan tahun.
Ia menyaksikan saudara tetangganya yang mengidap kanker dimasukkan ke kuali air panas untuk meredakan rasa sakit. Gambaran itu kembali muncul saat proses penulisan naskah.
Djinn Wedding menambah daftar film Asia yang menembus kompetisi Platform TIFF tahun ini. Bagi pasar festival Indonesia, proyek ini menjadi salah satu judul yang layak diikuti perkembangan distribusinya.