LAMPUNG — Gunung berapi di Indonesia tidak hanya menyimpan risiko letusan. Aktivitas vulkanik selama ribuan hingga jutaan tahun membentuk kepulauan Nusantara, menyuburkan tanah, dan meninggalkan jejak peradaban manusia di lereng-lerengnya. Dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku, rangkaian gunung api ini membentuk laboratorium alam raksasa yang menarik perhatian ilmuwan dunia.
Selat Sunda menjadi salah satu titik paling strategis untuk mengembangkan wisata berbasis ilmu pengetahuan. Nama Krakatau telah mendunia sejak letusan dahsyat 1883. Kini Anak Krakatau menjadi bagian dari proses geologi yang masih berlangsung hingga hari ini.
Anak Krakatau yang muncul dari kaldera letusan 1883 menjadi objek studi penting bagi vulkanolog, geolog, dan arkeolog dari berbagai negara. Kawasan ini menyimpan catatan lengkap tentang bagaimana gunung api terbentuk, bagaimana tsunami terjadi, dan bagaimana masyarakat pesisir bertahan menghadapi bencana alam.
Dengan pendekatan yang tepat, Selat Sunda dapat dikembangkan bukan hanya sebagai destinasi pantai, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran internasional. Materi yang bisa dipelajari mencakup geologi, vulkanologi, sejarah letusan, sistem peringatan dini, hingga ketangguhan manusia menghadapi bencana.
Tanjung Lesung di Pandeglang, Banten, berada sekitar 50 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan rekomendasi pemerintah, masyarakat dan wisatawan tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Dengan mematuhi ketentuan tersebut, aktivitas wisata di Tanjung Lesung tetap dapat berjalan normal.
Kawasan ini berpotensi mengembangkan Krakatau Volcano and Tsunami Learning Center yang bekerja sama dengan Badan Geologi, BMKG, BNPB, perguruan tinggi, museum, ahli vulkanologi, arkeolog, dan lembaga penelitian internasional. Di tempat yang aman, wisatawan dapat mempelajari proses terbentuknya Krakatau, peristiwa 1883, kemunculan Anak Krakatau, cara pemantauan gunung api dengan teknologi modern, hingga cara kerja sistem peringatan dini.
Teknologi digital memungkinkan wisatawan melihat aktivitas gunung melalui pemantauan waktu nyata, kamera jarak jauh, simulasi, augmented reality, dan virtual reality tanpa harus memasuki kawasan berbahaya. Erupsi tidak dijual sebagai tontonan, melainkan sebagai pengetahuan tentang fenomena alam.
Konsep geotourism, scientific tourism, archaeological tourism, dan educational tourism membuka segmen pasar baru. Para ahli geologi, vulkanologi, arkeologi, sejarah, lingkungan hidup, mahasiswa, fotografer alam, pembuat film dokumenter, hingga wisatawan dengan minat fenomena alam memiliki alasan kuat datang ke Indonesia.
Universitas-universitas dunia dapat diundang mengirim mahasiswa dan peneliti untuk studi lapangan. Paket pendidikan untuk sekolah internasional, fotografer, dan pembuat film dokumenter juga bisa dikembangkan. Dengan demikian Indonesia tidak hanya dikenal sebagai country of volcanoes, tetapi sebagai the world's living laboratory of volcanoes, nature and human civilization.
Ketika aktivitas Anak Krakatau meningkat, perjalanan wisata yang mendekati gunung harus dihentikan. Wisatawan tidak perlu mendekati pusat erupsi untuk memahami keajaiban Krakatau. Informasi resmi mengenai daerah yang tidak boleh dimasuki, daerah aman, jalur evakuasi, dan sumber informasi terpercaya wajib tersedia dengan jelas.
Jawaban atas pemberitaan letusan bukan menyembunyikan kenyataan, melainkan merespons dengan ilmu pengetahuan, transparansi, teknologi, kesiapsiagaan, dan informasi akurat. Masyarakat dunia akan melihat Indonesia sebagai negara yang tidak hanya hidup bersama gunung api, tetapi juga mempelajari, menghormati, dan memahami kekuatan alamnya.
Bagi traveler yang tertarik menjelajahi destinasi vulkanik, pastikan selalu memantau informasi resmi dari Badan Geologi, BMKG, dan dinas pariwisata setempat sebelum berangkat. Informasi terkini mengenai status gunung api dan akses wisata dapat dikonfirmasi melalui kanal resmi tersebut.