Holding Ultra Mikro 5 Tahun: 33,8 Juta Debitur, 2,3 Juta Naik Kelas

Penulis: Syaiful Bahri  •  Minggu, 13 September 2026 | 12:35:01 WIB
Holding UMi melaporkan 33,8 juta debitur aktif dan 2,3 juta nasabah naik kelas dalam lima tahun operasionalnya.

LAMPUNG — Angka tersebut disampaikan dalam keterangan resmi Holding UMi, Minggu (13/9), bertepatan dengan lima tahun beroperasinya ekosistem yang menyatukan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT Pegadaian, dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

Sejak awal, pembentukan holding ini menyasar segmen usaha ultra mikro yang belum tersentuh layanan keuangan formal secara optimal. Integrasi ketiga entitas dinilai memperluas jangkauan layanan, tidak hanya pada akses modal tetapi juga kapasitas usaha dan ketahanan ekonomi keluarga.

Jaringan 15.100 Kantor dan 74 Ribu Tenaga Pemasar

Infrastruktur menjadi tulang punggung integrasi tersebut. Hingga triwulan II 2026, Holding UMi menopang lebih dari 15.100 kantor BRI, Pegadaian, dan PNM yang memungkinkan masyarakat mengakses kebutuhan keuangan dalam satu ekosistem.

Di lapangan, lebih dari 74 ribu tenaga pemasar dikerahkan sebagai ujung tombak. Mereka terdiri dari Mantri BRI, tenaga pemasar Pegadaian, dan Account Officer PNM.

Peran mereka bukan sekadar menyalurkan pembiayaan. Mereka juga mendampingi nasabah, memberi edukasi keuangan, hingga membantu pelaku usaha mengembangkan kapasitas usahanya hingga tingkat komunitas.

Dari Pendampingan Ultra Mikro ke Pembiayaan Lebih Besar

Model bisnis Holding UMi dibangun bertingkat mengikuti tahapan perkembangan ekonomi nasabah. Pelaku usaha yang baru memulai mendapat pendampingan dan pembiayaan ultra mikro, lalu bertumbuh ke akses pembiayaan dengan kapasitas lebih besar.

Pada tahap berikutnya, nasabah dapat memanfaatkan layanan transaksi, simpanan, investasi, hingga layanan keuangan lain dalam ekosistem yang sama. Skema ini yang membuat mobilitas ekonomi nasabah terukur, bukan hanya dari besarnya pembiayaan yang disalurkan.

Group CEO BRI Hery Gunardi menyebut integrasi tiga entitas dengan kekuatan berbeda sebagai kunci dampak ekonomi yang lebih luas.

"Selama lima tahun, kekuatan Holding UMi ditopang oleh integrasi keunggulan masing-masing entitas. BRI memiliki jaringan dan kapabilitas pembiayaan UMKM serta infrastruktur yang luas, Pegadaian memiliki kompetensi pada pembiayaan berbasis gadai dan ekosistem emas, sementara PNM memiliki kekuatan pada pemberdayaan serta pendampingan kelompok usaha ultra mikro," ujar Hery.

Ekosistem Emas Capai 153 Ton per Agustus 2026

Memasuki tahun keenam, transformasi Holding UMi bergerak ke perluasan inklusi dan literasi keuangan. Salah satu yang menonjol adalah penguatan ekosistem emas melalui Pegadaian yang mencapai sekitar 153 ton hingga Agustus 2026.

Layanan itu mencakup gadai dan pembiayaan berbasis emas, Tabungan Emas, transaksi emas digital, hingga bullion services. Bagi masyarakat, emas berfungsi sebagai instrumen penyimpan nilai dan pembentukan aset jangka panjang.

Hery menegaskan ukuran keberhasilan holding ini bukan sekadar penyaluran pembiayaan.

"Bagi kami, keberhasilan terbesar bukan hanya ketika seseorang memperoleh pembiayaan," jelasnya. "Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika usahanya tumbuh, pendapatannya meningkat, kemampuan menabungnya semakin baik, dan selanjutnya mampu mengakses layanan keuangan yang lebih luas sehingga meningkatkan kesejahteraan. Karena itu, naik kelas menjadi salah satu agenda penting yang akan terus kami dorong."

Arti bagi Investor dan Pelaku UMKM

Bagi investor BRI, Holding UMi memperkuat posisi perseroan di segmen mikro yang selama ini menjadi penopang margin bunga bersih. Skala 33,8 juta debitur aktif dan 166 juta rekening simpanan memberi basis dana murah yang cukup dalam.

Adapun pelaku usaha ultra mikro mendapat jalur bertingkat dari pendampingan PNM, pembiayaan gadai Pegadaian, hingga kredit komersial BRI. Investasi mengandung risiko.

Reporter: Syaiful Bahri
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top