LAMPUNG — Data pasar NDF menunjukkan posisi rupiah yang defensif pada awal pekan ini setelah sempat menguat di akhir pekan lalu. Level Rp17.679/US$ ini mengindikasikan ekspektasi pelaku pasar terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ke depan masih belum optimistis, seiring dua faktor pemberat yang datang bersamaan dari eksternal.
Faktor pertama datang dari harga komoditas energi. Harga minyak mentah jenis Brent tercatat naik 0,21% ke level US$96,41 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertahan di kisaran US$92 per barel.
Kenaikan ini dipicu oleh aksi militer terbaru Amerika Serikat yang menyerang kapal tanker milik Iran. Teheran merespons dengan mengumumkan zona terbatas baru di luar Selat Hormuz. Situasi ini memperpanjang kekhawatiran pasar akan terganggunya arus pasokan energi global melalui jalur perairan strategis tersebut, yang pada akhirnya ikut menekan mata uang negara berkembang seperti Indonesia.
Dari sisi eksternal lainnya, rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat menjadi pemicu utama penguatan dolar. Ekonomi AS dilaporkan menambah 162 ribu lapangan kerja baru pada Agustus 2026, sebuah angka yang melampaui ekspektasi pasar.
Kinerja tersebut secara langsung memengaruhi perhitungan bank sentral negara berkembang, termasuk Bank Indonesia. Para pelaku pasar kini meyakini Federal Reserve akan lebih fokus pada pengendalian inflasi dan kembali menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan September mendatang, sebuah skenario yang biasanya mendorong aliran modal keluar dari pasar negara berkembang.
"Laju pertumbuhan lapangan kerja telah membaik dan tampaknya berada di atas tingkat pertumbuhan yang diperlukan untuk menjaga tingkat pengangguran tetap stabil. Hal ini akan memperkuat alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September," kata Anna Wong, Ekonom Bloomberg Economics, dalam catatannya.
Kombinasi antara harga minyak yang tinggi dan prospek hawkish The Fed menciptakan tekanan ganda bagi rupiah. Harga minyak yang mahal meningkatkan beban impor energi Indonesia, sementara potensi kenaikan suku bunga AS berisiko memicu aksi jual aset berdenominasi rupiah oleh investor asing.
Kedua sentimen negatif ini datang di saat pasar domestik tengah menanti langkah konkret Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Dengan kondisi global yang masih bergejolak, volatilitas rupiah berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
Investasi mengandung risiko.