LAMPUNG BARAT — Empat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tercatat melanda Kabupaten Lampung Barat sepanjang Agustus 2026. Seluruh kejadian berhasil dipadamkan, tetapi pemerintah daerah memilih memperketat deteksi dini di tengah musim kemarau yang belum menunjukkan tanda berakhir.
Lokasi kebakaran tersebar di kawasan savana Pekon Sukamarga, Kecamatan Suoh; lahan tidur Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan Balik Bukit; lahan warga di Pekon Kagungan, Kecamatan Lumbok Seminung; serta lahan warga dan belukar di Kelurahan Way Mengaku.
BPBD Lampung Barat mengerahkan 15 personel Tim Reaksi Cepat (TRC), 18 personel Tim Rescue atau SAR, 20 personel Satgas Penanggulangan Bencana, serta 28 personel organik. Satgas di tingkat pekon dan kelurahan juga diperkuat untuk patroli mandiri.
Dari sisi peralatan, pemkab menyiapkan satu mobil tangki air, satu truk serbaguna, tiga mobil taktis, dan empat unit alkon dengan selang masing-masing sepanjang 100 meter. Enam mesin sinso dan lima kendaraan damkar ditempatkan di lima kecamatan.
Pemkab tidak hanya mengandalkan patroli darat. Titik panas dipantau secara berkala melalui Warning Receiver System (WRS), aplikasi SIPONGI milik Kementerian Kehutanan, dan SPARTAN BMKG. Informasi dari sistem itu menjadi dasar petugas bergerak sebelum api membesar.
Wakil Bupati Lampung Barat, Drs. Mad Hasnurin, menegaskan kesiapsiagaan adalah kunci utama penanganan Karhutla. Menurutnya, pemadaman yang baru dimulai setelah api membesar akan memakan biaya lebih besar dan berisiko meluas.
"Pemkab Lampung Barat telah menyiapkan personel dan sarana pendukung untuk menghadapi potensi Karhutla. Kesiapsiagaan ini menjadi bagian penting agar setiap kejadian dapat ditangani dengan cepat dan tepat," ujar Mad Hasnurin saat menerima audiensi Tim Penyuluhan Kebakaran Hutan dan Lahan di Ruang Rapat Pesagi Setdakab Lampung Barat, Jumat (28/8/2026).
Penanganan kebakaran dikendalikan melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Lampung Barat. Warga yang menemukan titik api dapat melapor ke nomor 0811-7287-288.
Koordinasi lintas sektor diperkuat dengan Polres Lampung Barat, Kodim 0422/Lampung Barat, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Damkar, hingga pemerintah kecamatan dan pekon. Mad Hasnurin meminta wilayah berpotensi kebakaran tinggi dipetakan dan dipantau berkala.
"Sinergi lintas sektor sangat penting untuk memastikan deteksi dini, respons cepat dan penanganan Karhutla berjalan efektif. Kita juga perlu memetakan wilayah yang memiliki potensi tinggi terjadi kebakaran untuk kemudian dipantau secara berkala," jelasnya.
Di sisi pencegahan, Korem 043/Garuda Hitam bersama Kodim 0422/Lampung Barat menggelar penyuluhan Karhutla. Tim berdelapan personel itu dijadwalkan melakukan sosialisasi selama sekitar 28 hari.
Ketua Tim Penyuluhan Karhutla, Pamen Pusziad Kolonel Czi Wahyu Widi Setyanto, mengatakan edukasi menyasar kesadaran warga agar tidak membakar lahan sembarangan. Masyarakat juga diajari langkah awal ketika menemukan titik api.
"Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan Karhutla, memberikan edukasi mengenai dampak buruk yang ditimbulkan, serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan," kata Wahyu.
Dengan kombinasi personel, peralatan, pemantauan hotspot, dan edukasi, pemkab berharap risiko Karhutla di Lampung Barat bisa ditekan hingga akhir musim kemarau.