BANDAR LAMPUNG — Nasyiatul Aisyiyah (NA) Lampung mendorong kader-kadernya untuk tidak sekadar menjadi pelaksana program organisasi, melainkan menjadi pemikir, inovator, dan pemimpin perubahan sosial. Hal ini menjadi fokus utama dalam kegiatan Darul Arqam dan Latihan Instruktur yang digelar oleh Pimpinan Wilayah NA Lampung dengan tema “Perempuan Muda yang Berdaya”.
Kegiatan yang menjadi jantung kaderisasi di tubuh NA ini dinilai membutuhkan pembaruan paradigma. Kader tidak cukup hanya “paham” terhadap materi organisasi, tetapi harus mampu “menggerakkan” perubahan di tengah masyarakat.
“Kader Nasyiatul Aisyiyah harus dibentuk tidak hanya sebagai pelaksana program, tetapi sebagai pemikir, inovator, dan pemimpin perubahan. Mereka harus mampu membaca realitas sosial secara kritis dan merumuskan solusi berbasis nilai-nilai Islam berkemajuan,” demikian salah satu poin yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.
Salah satu hambatan yang diidentifikasi adalah masih adanya mentalitas “menunggu peran” di kalangan kader, alih-alih “menciptakan peran” sendiri. Untuk itu, Latihan Instruktur tidak hanya membekali metode pelatihan, tetapi juga menanamkan keberanian untuk tampil, berbicara, dan memimpin di ruang publik.
Perempuan muda NA didorong untuk hadir di berbagai sektor strategis, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, advokasi sosial, hingga politik kebangsaan. Keberdayaan, menurut NA, mencakup kesadaran ideologis, kekuatan intelektual, kecakapan sosial, serta keberanian mengambil peran.
Era digital menjadi medan dakwah yang tidak bisa diabaikan. NA Lampung menekankan pentingnya literasi digital sebagai bagian integral dari kaderisasi. Media sosial bukan lagi sekadar ruang hiburan, melainkan arena pertarungan gagasan dan nilai.
“Perempuan muda berdaya adalah mereka yang mampu memproduksi narasi, bukan hanya mengonsumsi informasi. Mereka harus hadir sebagai content creator yang membawa pesan dakwah yang mencerahkan,” demikian penekanan dalam forum tersebut.
Pelatihan instruktur ke depan direncanakan memasukkan kurikulum dakwah digital, termasuk cara membuat konten edukatif dan berdampak yang mampu membangun opini publik yang sehat dan berkemajuan.
Tantangan lain yang dihadapi adalah melemahnya basis ideologi di tengah derasnya arus globalisasi dan pragmatisme. Banyak kader yang aktif secara struktural, tetapi lemah secara ideologis. Darul Arqam diharapkan menjadi ruang internalisasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan secara mendalam.
“Ideologi harus menjadi ruh yang menggerakkan, bukan sekadar materi yang dihafal. Tanpa ideologi yang kuat, gerakan akan kehilangan arah dan mudah tergerus oleh kepentingan sesaat,” kata pengurus NA Lampung dalam kegiatan tersebut.
Keberdayaan perempuan muda tidak bisa dibangun secara individual. NA Lampung mendorong pembangunan ekosistem yang mendukung melalui kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas kreatif, hingga sektor swasta. Kader dilatih menjadi network builder yang mampu menjalin kemitraan strategis demi kemaslahatan umat.
Kegiatan Darul Arqam dan Latihan Instruktur ini menjadi titik awal perjalanan panjang mencetak kader yang berdaya. Potensi besar perempuan muda NA Lampung, menurut panitia, hanya akan menjadi nyata jika disertai kesungguhan dalam belajar, keberanian dalam bertindak, dan keteguhan dalam memegang nilai-nilai gerakan.