BANDAR LAMPUNG — Kematian seekor tapir di kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung, menjadi pengingat pahit bagi warga tentang cara bersikap saat bertemu satwa liar. BKSDA Bengkulu menegaskan, langkah paling tepat adalah menjaga jarak dan segera melapor ke petugas.
Kepala Seksi KSDA Wilayah III Lampung, Itno Itoyo, menjelaskan bahwa tapir yang terlihat diam atau bergerak lambat kerap dianggap kebingungan. Padahal, hewan ini lebih aktif pada malam hari dan beristirahat di siang hari.
"Tapir lebih aktif pada malam hari. Jadi ketika terlihat pada siang hari, gerakannya memang cenderung lambat dan tampak tenang," ujar Itno.
Tapir juga memiliki penglihatan terbatas sehingga lebih mengandalkan penciuman dan pendengaran. Ia kerap berhenti sejenak untuk mengendus udara sebelum melanjutkan perjalanan.
Kepala Balai KSDA Bengkulu Agung Nugroho menegaskan, tapir bukan satwa yang agresif terhadap manusia. Karakternya cenderung tenang dan lebih memilih menghindar jika bertemu manusia.
Namun, warga dilarang mengejar, memberi makan, atau menangkap satwa tersebut. Tindakan itu justru membuat hewan stres, bersikap defensif, bahkan berpindah ke lokasi yang lebih berbahaya.
"Segera laporkan kepada petugas agar kami dapat melakukan mitigasi dan penanganan sesuai prosedur. Dengan begitu, keselamatan masyarakat maupun satwa dapat sama-sama terjaga," kata Agung, Jumat (3/7/2026).
Agung menjelaskan, kemunculan tapir di Jalan Lintas Timur Register 45 tidak berarti satwa itu kehilangan arah. Jalan tersebut berbatasan langsung dengan habitat alami tapir sehingga perjumpaan dengan manusia sangat mungkin terjadi.
"Kawasan Register 45 masih menjadi bagian dari bentang alam yang dilalui tapir untuk berpindah mencari pakan, sumber air, maupun tempat berlindung," ujarnya.
Hasil survei flora dan fauna BKSDA pada Januari 2024 menunjukkan tapir masih teridentifikasi di kawasan Register 45 Mesuji.
BKSDA meminta pengguna jalan meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melintasi kawasan hutan pada pagi, sore, dan malam hari ketika satwa liar mulai aktif bergerak. Peristiwa di Mesuji menjadi pengingat bahwa kelestarian satwa liar bergantung pada kesadaran masyarakat untuk memberi ruang aman bagi satwa tanpa gangguan manusia.