Visa, Mastercard, dan Coinbase Rilis Stablecoin Open USD, Targetkan Adopsi Pembayaran Global

Penulis: Syaiful Bahri  •  Kamis, 02 Juli 2026 | 02:39:01 WIB
Visa, Mastercard, dan Coinbase meluncurkan stablecoin Open USD yang nilainya dipatok 1:1 terhadap dolar AS.

LAMPUNG — Visa, Mastercard, dan Coinbase bersama lebih dari 140 perusahaan meluncurkan inisiatif stablecoin bernama Open Standard. Produk pertama yang akan dirilis adalah Open USD, stablecoin yang nilainya dipatok 1:1 terhadap dolar Amerika Serikat. Rencananya, koin ini akan tersedia untuk publik pada akhir tahun 2026.

Apa Itu Open USD dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Open USD adalah stablecoin yang dirancang khusus untuk transaksi di ekonomi internet. Berbeda dengan stablecoin lain yang lebih sering dipakai untuk jual-beli aset kripto di bursa, Open USD ingin menjadi alat bayar digital yang benar-benar dipakai untuk membeli barang dan jasa.

CEO Open Standard, Zach Abrams, menjelaskan bahwa stablecoin yang ada saat ini sebenarnya punya potensi besar. Tapi untuk dipakai dalam skala besar oleh bisnis, perlu sistem yang terbuka, biaya rendah, throughput tinggi, dan bisa diakses secara luas. "Existing stablecoins have great strengths, but to use them at scale, businesses need something that's open, low-cost, high-throughput, broadly accessible and aligned to their interests," kata Abrams kepada Reuters.

Regulasi Baru Jadi Pendorong Utama

Peluncuran ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani GENIUS Act. Undang-undang ini mewajibkan penerbit stablecoin untuk menyimpan cadangan 1:1, plus aturan anti pencucian uang dan perlindungan konsumen jika penerbit bangkrut. Kerangka hukum ini memberikan kepastian bagi perusahaan besar seperti Visa dan Mastercard untuk masuk ke pasar stablecoin.

Trump sendiri dikenal sangat pro-kripto. Mantan eksekutif PayPal, David Sacks, sempat ditunjuk sebagai "White House A.I. & Crypto Czar" pada 2024, meski kemudian mundur pada Maret 2026 karena masalah etika. Ia tetap menjalankan perusahaan modal ventura selama menjabat.

Stablecoin vs Realita: Masih Jauh dari Dompet Digital

Meski namanya "stabil", riset menunjukkan stablecoin saat ini masih mayoritas dipakai untuk trading kripto, bukan untuk membeli kopi atau bayar tagihan. Open Standard ingin mengubah persepsi itu dengan menggandeng jaringan pembayaran raksasa seperti Visa dan Mastercard yang sudah punya infrastruktur merchant global.

PayPal sudah lebih dulu meluncurkan PayPal USD pada 2023 dan nilainya relatif stabil di kisaran 1 dolar AS. Tapi adopsi untuk transaksi ritel masih jauh dari volume trading kripto harian.

Konteks: Kripto Masih Berantakan, Tapi Presiden Untung Besar

Sementara stablecoin diatur ketat, pasar kripto secara keseluruhan masih kacau. Bitcoin turun hampir 50 persen dalam setahun terakhir. Volatilitas tinggi membuat banyak investor ritel rugi besar. Ironisnya, Presiden Trump disebut meraup lebih dari 1,4 miliar dolar AS dari kripto selama tahun pertama masa jabatan keduanya, terutama dengan menerbitkan token ke basis pendukungnya. Reuters melaporkan bahwa presiden AS kini "sebagian besar pendapatannya berasal dari aset digital yang diuntungkan oleh kebijakannya sendiri."

Kapan Open USD Tersedia?

Open Standard menargetkan Open USD bisa diakses oleh publik pada akhir 2026. Belum ada informasi apakah stablecoin ini akan langsung tersedia untuk pengguna di Indonesia. Namun, dengan keterlibatan Visa dan Mastercard yang sudah beroperasi di pasar lokal, bukan tidak mungkin Open USD masuk ke Indonesia dalam waktu dekat—tentu dengan menunggu keputusan regulator seperti Bank Indonesia dan OJK.

Bagi pengguna yang sudah familiar dengan dompet digital seperti GoPay atau OVO, konsep stablecoin seperti Open USD sebenarnya mirip: nilainya tetap, bisa dipakai transaksi. Bedanya, stablecoin berjalan di blockchain dan bisa dikirim ke siapa saja di dunia tanpa perantara bank. Pertanyaan besarnya: apakah orang akan benar-benar memakainya untuk belanja, atau cuma jadi alat trading lagi?

Reporter: Syaiful Bahri
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top