BANDAR LAMPUNG — Sebanyak 90 peserta mengikuti "Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar" yang digelar DPW LDII Lampung di kantor mereka, Minggu (28/6). Mereka diajak untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif, melainkan produsen informasi yang bermanfaat di tengah derasnya arus berita hoaks.
Ketua Departemen KIM DPP LDII, Ludhy Cahyana, menyoroti fenomena post-truth yang kini merajalela. Menurutnya, kondisi ini membuat masyarakat kesulitan membedakan informasi yang benar dan salah.
"Post-truth membuat batas semakin tipis, antara kebenaran dan kebohongan. Kejujuran dan penipuan. Sehingga ada kecenderungan, masyarakat lebih mencari pembenaran, daripada kebenaran," ujar Ludhy di hadapan para peserta.
Ludhy juga mengingatkan risiko menjadi objek dari platform media sosial. Tanpa disadari, data pribadi pengguna kerap diserahkan kepada pemilik aplikasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan iklan.
"Di mana, data kita diserahkan pemilik aplikasi kepada pemilik produk tertentu. Sehingga, dapat dimanfaatkan oleh sebagai sasaran iklan," katanya.
Untuk keluar dari jerat ini, ia mendorong peserta menggunakan media sosial secara produktif. Mulai dari berjualan, berdakwah, hingga mempublikasikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Senada dengan Ludhy, Ketua DPW LDII Lampung, M Aditya, menegaskan pentingnya peran aktif dalam pemberitaan. Generasi muda harus mampu mengkomunikasikan karya dan kontribusi organisasi melalui berita dan konten positif.
"Kita harus menjadi produsen informasi. Komunikasikan karya dan kontribusi LDII melalui berita dan konten yang positif," tegas Aditya dalam sambutannya.
Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi para peserta untuk lebih bijak bermedia sosial sekaligus aktif menyebarkan informasi yang mendidik dan membangun.