Fox membeli Roku dengan harga 160 dolar AS per saham. Pengumuman resmi dirilis kedua perusahaan pada Senin (14/4/2026) waktu setempat. Nilai transaksi ini mencakup seluruh bisnis Roku: dari perangkat streaming stick dan TV pintar, sistem operasi Roku OS, hingga layanan FAST (free ad-supported streaming television) milik Roku, The Roku Channel.
Divisi perangkat keras Roku justru mencatat kerugian operasional. Pada kuartal yang berakhir 31 Maret 2026, segmen hardware kehilangan 19,1 juta dolar AS. Namun, Fox tidak membeli plastik dan chip — mereka membeli akses ke 100 juta rumah tangga pengguna Roku di seluruh dunia.
Uang sesungguhnya ada di iklan dan langganan. Pada periode yang sama, divisi periklanan dan subscription Roku membukukan laba kotor 584,1 juta dolar AS. Pendapatan iklan saja mencapai 371 juta dolar AS dalam satu kuartal.
Ini bukan sekadar akuisisi hardware. Fox sudah memiliki Tubi, platform FAST yang diakuisisi pada 2020. Sekarang Tubi akan berada satu grup dengan The Roku Channel. Keduanya bersaing langsung dengan platform sejenis seperti Pluto TV (milik Paramount) dan Samsung TV Plus.
Dengan menggabungkan konten Fox — termasuk Fox News, Fox Business, FS1, dan siaran langsung Fox — dengan distribusi Roku, Fox menciptakan mesin iklan yang sulit ditandingi. Pengiklan bisa menjangkau pemirsa TV kabel tradisional dan pemirsa streaming cord-cutter dalam satu ekosistem.
Roku sempat mencetak laba tahunan pada 2021, didorong lonjakan pemirsa selama pandemi COVID-19. Namun setelah itu perusahaan kembali merugi. Profitabilitas tahunan baru pulih lagi pada 2025, setahun sebelum akuisisi ini diumumkan.
Bagi Fox, ini saat yang tepat membeli. Roku sudah stabil secara finansial, basis penggunanya masih bertumbuh, dan valuasi 22 miliar dolar AS dinilai masuk akal untuk aset strategis sebesar itu.
Dalam jangka pendek, pengguna Roku tidak akan merasakan perubahan drastis. Perangkat streaming dan TV pintar Roku tetap berjalan dengan sistem operasi yang sama. Namun dalam jangka panjang, Fox kemungkinan akan mengintegrasikan Tubi lebih dalam ke Roku OS, dan sebaliknya — konten Roku Channel bisa muncul di platform Fox.
Yang lebih terasa adalah iklan. Gabungan data pengguna Roku (100 juta rumah tangga) dengan konten Fox menghasilkan targeting yang lebih presisi. Pengguna mungkin akan melihat iklan yang lebih relevan — atau lebih banyak iklan, tergantung strategi monetisasi ke depan.
Di Indonesia, Roku belum secara resmi menjual perangkatnya. Namun platform FAST seperti Tubi dan The Roku Channel bisa diakses melalui aplikasi di smart TV atau perangkat streaming impor. Akuisisi ini tidak mengubah akses pengguna Indonesia secara langsung, namun memperkuat posisi Fox sebagai salah satu pemain iklan TV global terbesar.