Nggruput Pringsewu Lampung, Pasar Minggu Pagi yang Sajikan Kerak Telor hingga Ciwel di Tengah Sawah

Penulis: Syaiful Bahri  •  Senin, 15 Juni 2026 | 20:21:01 WIB
Pengunjung menikmati suasana pasar Nggruput yang dikelilingi hamparan sawah hijau di Pringsewu, Lampung.

PRINGSEWU — Matahari belum tinggi ketika kendaraan mulai memadati jalan menuju kompleks Pemerintah Kabupaten Pringsewu pada Minggu (14/6/2026) pagi. Aroma surabi yang baru matang berpadu dengan wangi sate padang dan jamu tradisional menyambut setiap pengunjung yang datang.

Bagi warga setempat, Nggruput bukanlah tempat asing. Namun, bagi pendatang, pasar kuliner ini menyimpan pengalaman yang kerap membuat mereka ingin kembali lagi.

Dari Festival Kecil Jadi Destinasi Wisata

Nama Nggruput berasal dari bahasa lokal yang berarti "Minggu pagi-pagi", merujuk pada waktu penyelenggaraan pasar yang telah menjadi tradisi masyarakat. Pasar ini pertama kali digelar pada 1 Oktober 2017, bermula dari festival kuliner sederhana yang digagas oleh pemuda dan tokoh masyarakat.

Mereka ingin menghadirkan kembali jajanan tradisional yang mulai terlupakan. Respons positif dari masyarakat membuat kegiatan ini terus berlanjut hingga kini menjadi salah satu destinasi wisata kuliner unggulan di Lampung.

Ratusan Menu Nusantara dengan Harga Terjangkau

Setiap pekan, lebih dari 100 pedagang atau bakuler memenuhi area Nggruput. Ratusan menu khas Nusantara tersaji, mulai dari kerak telor, ciwel, nasi gudeg, surabi, soto Lamongan, sate padang, hingga jamu gendong.

Yang membedakan Nggruput dari pusat kuliner perkotaan adalah lanskapnya. Hamparan sawah hijau yang mengelilingi lokasi pasar menciptakan suasana tenang dan menyejukkan, menjadi latar yang menenangkan bagi para pengunjung.

Dampak Ekonomi bagi Pedagang Lokal

Di balik keramaian pengunjung, Nggruput menjadi penggerak ekonomi masyarakat setempat. Suyanti, salah seorang pedagang, mengaku kegiatan setiap Minggu ini sangat membantu menopang kebutuhan keluarganya.

"Alhamdulillah, setiap Minggu pembeli selalu ramai. Dagangan sering habis sebelum acara selesai. Hasilnya sangat membantu kebutuhan sehari-hari," ujar Suyanti, Minggu (14/6/2026).

Hal senada disampaikan Marni. Ia menilai Nggruput bukan sekadar tempat berjualan, melainkan juga ruang pertemuan antara budaya dan masyarakat.

Bukan Sekadar Kuliner, Tapi Ruang Nostalgia

Daya tarik utama Nggruput tidak hanya terletak pada ragam kulinernya. Bagi banyak pengunjung, pasar ini menjadi ruang nostalgia untuk mengenang jajanan masa kecil yang mulai jarang ditemui.

Dengan harga yang relatif terjangkau dan suasana pedesaan yang masih kental, Nggruput berhasil menjadi agenda mingguan yang dinantikan, baik oleh warga Pringsewu maupun wisatawan dari luar daerah.

Reporter: Syaiful Bahri
Sumber: regional.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top