BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung mengukuhkan posisinya sebagai pionir dalam pemenuhan gizi nasional. Melalui kolaborasi bersama Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf), digelar agenda MASAMO (Masak Bersama Master) di SPPG Rajabasa 3, Minggu (15/2/2026), sebagai langkah strategis memperkuat kapasitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kegiatan ini menghadirkan Chef Norman Ismail untuk membekali 50 perwakilan SPPG dengan standar higienitas, keamanan pangan, dan manajemen dapur skala besar guna mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengungkapkan bahwa Lampung kini tercatat sebagai provinsi dengan persentase pemenuhan dapur MBG tertinggi di Indonesia.
| Indikator | Capaian Provinsi Lampung |
|---|---|
| Total Unit SPPG | 1.007 Unit |
| Penerima Manfaat Harian | ± 2,7 Juta Jiwa |
| Target Sasaran | Balita, Ibu Hamil, Pelajar, & Santri |
| Dampak Sektor Lokal | Serapan Surplus Beras, Telur, Ayam, & Udang |
Kehadiran 1.007 unit SPPG bukan sekadar urusan nutrisi, melainkan mesin penggerak ekonomi kerakyatan. Gubernur menegaskan bahwa program ini menjadi solusi atas hambatan ekspor komoditas lokal, seperti udang, yang kini dialihkan untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam negeri.
“Hampir seluruh target MBG di Lampung sudah terpenuhi. Dengan SPPG, hasil produksi petani, peternak, dan nelayan lokal terserap maksimal. Ini adalah ekosistem yang saling menguntungkan bagi ekonomi daerah,” ujar Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, Senin (16/2/2026).
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, memberikan apresiasi tinggi terhadap akselerasi yang dilakukan Lampung. Menurutnya, Lampung sukses mengintegrasikan subsektor kuliner dengan ketahanan pangan nasional.
Riefky memaparkan data nasional untuk memberikan perspektif perbandingan:
Unit SPPG Nasional Saat Ini: 21.897 unit (melayani 65 juta jiwa).
Target Nasional 2026: 30.600 unit (melayani 83 juta jiwa).
“Lampung menunjukkan bahwa program ini tidak hanya meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga membangkitkan ekonomi daerah secara berkelanjutan,” tutur Menekraf. Selain kuliner, pemerintah pusat berkomitmen mendorong sektor kreatif lain di Lampung seperti fashion dan kriya agar mampu bersaing di pasar global.