Pencarian

3 Pekon di Semaka Tanggamus Disiapkan Jadi Desa Tangguh Bencana, 90 Warga Dilatih Mitigasi Banjir dan Longsor

Rabu, 23 September 2026 • 12:31:01 WIB
3 Pekon di Semaka Tanggamus Disiapkan Jadi Desa Tangguh Bencana, 90 Warga Dilatih Mitigasi Banjir dan Longsor
Peserta pelatihan mitigasi bencana mengikuti kegiatan Destana di Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus.

TANGGAMUS — Pekon Sri Purnomo, Sri Kuncoro, dan Sukajaya menjadi tiga wilayah yang dipilih mengikuti program Destana. Kegiatan dibuka Sekretaris BPBD Tanggamus Iwan Junianto mewakili Kepala Pelaksana BPBD Tanggamus Irvan Wahyudi.

Semaka termasuk wilayah yang harus menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem. Kesiapsiagaan warga dinilai tidak bisa hanya mengandalkan bantuan petugas setelah bencana terjadi.

Mengapa Semaka Dipilih Jadi Lokasi Destana

Data BPS mencatat Sri Purnomo dan Sri Kuncoro sebagai wilayah dengan catatan potensi bencana. Dasar kebutuhan itu membuat penguatan kapasitas masyarakat di dua pekon tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial.

Konteksnya juga diperkuat catatan kebencanaan pemerintah: Kecamatan Semaka termasuk wilayah Tanggamus yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026. Ancaman terhadap warga tidak hanya berasal dari banjir dan longsor, tetapi juga fenomena geologi dan cuaca yang berubah cepat.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Tanggamus Hendarman Wahid menyatakan kondisi itu menunjukkan ancaman yang beragam. "Kondisi itu menunjukkan bahwa ancaman terhadap masyarakat Tanggamus tidak hanya berasal dari banjir dan longsor, tetapi juga dapat datang dari fenomena geologi dan cuaca yang berubah cepat," kata Hendarman, Rabu (23/9/2026).

Paradigma Penanggulangan Bencana yang Harus Bergeser

Iwan Junianto menegaskan paradigma penanggulangan bencana harus bergeser dari sekadar bertindak setelah bencana terjadi menjadi mencegah dan mengurangi risikonya sejak awal.

"Kita tak dapat memprediksi secara pasti kapan bencana akan terjadi, tetapi kita bisa mempersiapkan diri untuk mengurangi dampak dan risiko yang ditimbulkan," kata Iwan.

Kesiapsiagaan, menurut dia, harus dibangun dari lingkungan paling dasar, yakni keluarga dan pekon. Masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang menunggu pertolongan ketika bencana datang, tetapi memiliki kemampuan melakukan tindakan awal untuk menyelamatkan diri dan lingkungan.

"Program Destana tersebut diarahkan untuk membekali masyarakat agar mampu mengenali ancaman dan potensi bahaya di wilayah masing-masing, mengorganisasi sumber daya masyarakat, menyusun rencana evakuasi serta melakukan pemulihan setelah bencana," ungkap Iwan.

90 Peserta Disiapkan Jadi Relawan Tingkat Pekon

Sebanyak 90 peserta dari tiga pekon mengikuti kegiatan tersebut. Mereka dipersiapkan menjadi bagian dari kekuatan relawan penanggulangan bencana di tingkat pekon.

"Pelatihan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sarana penting untuk menyerap ilmu, melatih keterampilan teknis, dan membentuk Tim Relawan Penanggulangan Bencana di tingkat pekon," ujar Iwan.

Ia meminta peserta tidak hanya mengikuti materi secara administratif, tetapi benar-benar memahami prosedur menghadapi bencana dan mampu menularkannya kepada masyarakat.

"Semua peserta dapat mengikuti setiap sesi materi dan simulasi dengan bersungguh-sungguh, aktif berdiskusi, serta menularkan pengetahuan yang didapat kepada warga masyarakat lainnya," katanya.

Relawan Bergerak Tanpa Insentif

Kepala Pekon Sukajaya yang juga Ketua APDESI Kecamatan Semaka, Abdul Karim, menyambut pembentukan Destana tersebut. Wilayahnya termasuk daerah yang kerap menghadapi bencana beberapa kali dalam setahun.

"Kami sangat bersyukur dengan adanya Destana ini. Meskipun para relawan bergerak tanpa insentif, hal itu tidak mematahkan semangat mereka demi mewujudkan pekon yang aman dan tangguh," ujar Abdul Karim.

Pernyataan itu menyentuh persoalan penting dalam sistem penanggulangan bencana berbasis masyarakat: relawan tidak boleh hanya dibebani tanggung jawab tanpa dukungan berkelanjutan.

Yang Menentukan Bukan Seremoni Pembentukan

Keberadaan Destana dinilai tidak boleh berhenti pada pembentukan kepengurusan, pelatihan, atau dokumentasi kegiatan. Yang jauh lebih penting adalah apakah setelah pelatihan warga benar-benar mengetahui ke mana harus menyelamatkan diri dan siapa yang harus dihubungi.

Warga juga perlu memahami cara mengevakuasi kelompok rentan, memberikan pertolongan pertama, dan memastikan informasi bencana tidak simpang siur.

"Sebab, ketika bencana datang, waktu beberapa menit bisa menentukan keselamatan seseorang," ujar Hendarman.

BNPB dalam laporan kebencanaan September 2026 berulang kali mengingatkan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, karhutla, dan berbagai bencana hidrometeorologi. Masyarakat diminta memantau informasi resmi serta menyiapkan langkah penyelamatan dan jalur evakuasi sebelum bencana terjadi.

Follow lampungvoice.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kupastuntas.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks