LAMPUNG — Data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 09.09 WIB mencatatkan indeks menguat 0,45 persen dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.343. Pada pembukaan, IHSG sempat berada di level 6.354,02 sebelum akhirnya melanjutkan penguatan. Sebanyak 275 saham tercatat menghijau, sementara 208 saham melemah dan 205 saham stagnan.
Aktivitas perdagangan di awal sesi ini terbilang ramai dengan volume transaksi mencapai 4,4 miliar saham dan nilai perputaran sekitar Rp 1,5 triliun.
Energi, Infrastruktur, dan Properti Jadi Motor Penggerak
Kenaikan indeks pada pagi ini tidak lepas dari kinerja solid tiga sektor utama. Selain energi yang memimpin, sektor infrastruktur menguat 0,92 persen dan sektor properti naik 0,80 persen. Ketiganya menjadi penopang utama laju indeks di tengah tekanan jual yang masih terjadi di beberapa sektor lainnya.
Dari jajaran saham unggulan LQ45, emiten batu bara mencatatkan kenaikan paling mencolok. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sama-sama menguat 3,35 persen, masing-masing ke level Rp 185 dan Rp 9.250. Sementara itu, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) ikut naik 2,29 persen ke Rp 1.115.
Di sisi lain, tekanan terlihat pada PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang turun 1,18 persen ke Rp 1.670. Disusul PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang masing-masing terkoreksi 0,94 persen.
Bursa Asia Mixed, Investor Menunggu Sinyal Global
Pergerakan indeks di kawasan Asia pada Jumat pagi menunjukkan arah yang beragam. Indeks Shanghai Composite menjadi pengecualian dengan menguat 0,38 persen ke level 3.915,01. Sebaliknya, mayoritas bursa utama lainnya justru tertekan.
- Nikkei 225 Jepang melemah 0,98 persen
- Kospi Korea Selatan turun 1,06 persen
- Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,24 persen
- S&P/ASX 200 Australia melemah 0,17 persen
Variasi pergerakan ini mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar terhadap perkembangan sentimen global. Investor cenderung mengurangi eksposur risiko di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter negara maju.
Rupiah Masih Tertekan di Level Rp 17.934
Di pasar valuta asing, posisi rupiah belum menunjukkan perbaikan berarti. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda diperdagangkan di level Rp 17.934 per dollar AS pada Jumat pagi. Angka ini melemah 11 poin atau 0,06 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.923 per dollar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah fluktuasi pasar keuangan global yang masih berlanjut. Tekanan terhadap mata uang emerging market ini menjadi salah satu faktor yang membatasi laju penguatan IHSG lebih tinggi lagi.
Investasi mengandung risiko.