Pencarian

Wall Street Terkoreksi dan Harga Minyak Brent Tembus US$83, Kekhawatiran Inflasi Kembali Menghantui

Jumat, 07 Agustus 2026 • 06:02:31 WIB
Wall Street Terkoreksi dan Harga Minyak Brent Tembus US$83, Kekhawatiran Inflasi Kembali Menghantui
Harga minyak mentah Brent menembus US$83 per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

LAMPUNG — Tekanan jual mendominasi perdagangan saham dan obligasi Amerika Serikat pada sesi akhir pekan ini. Pemicunya bukan data ekonomi domestik, melainkan panasnya situasi geopolitik di Timur Tengah yang berimbas langsung pada harga komoditas energi. Minyak mentah acuan Brent tercatat merangkak naik menembus US$83 per barel, level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Melansir laporan Bloomberg, Jumat (16/6/2023), kenaikan biaya energi ini secara langsung mengerek ekspektasi inflasi. Alhasil, pelaku pasar kembali mengkalkulasi kemungkinan sikap hawkish The Fed pada pertemuan berikutnya. Data non-farm payroll yang akan dirilis hari ini pun menjadi sorotan utama, karena akan menjadi penentu arah kebijakan moneter jangka pendek.

Selat Hormuz Kembali Panas, Pasokan Minyak Dunia Terancam

Katalis utama koreksi kali ini datang dari ancaman baru di Selat Hormuz. Media lokal melaporkan bahwa Iran berencana melarang kapal-kapal berbendera AS dan Israel melintasi jalur air vital tersebut. Sebagai gantinya, Teheran menuntut kompensasi dari negara-negara yang dianggap bermusuhan sebelum mengizinkan mereka kembali menggunakan jalur tersebut.

Usulan ini disebut-sebut tengah dibahas dalam kerangka kesepakatan Iran-Oman untuk mengelola jalur pelayaran strategis itu. Namun, ketidakjelasan nasib negosiasi tersebut membuat pasar bertahan dalam mode risiko rendah. Setiap gangguan kecil di Selat Hormuz berpotensi mengganggu sepertiga pasokan minyak dunia, sehingga premi risiko langsung tersemat pada harga komoditas.

Saham Teknologi dan Memori Terpukul, Dolar Menguat

Di lantai bursa, sektor teknologi menjadi salah satu pemberat utama indeks. Saham Sandisk Corp. dan Western Digital Corp. anjlok signifikan setelah proyeksi kinerja kuartal berikutnya mengecewakan investor. Kedua perusahaan memori itu gagal meyakinkan pasar soal prospek permintaan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Di sisi lain, indeks dolar AS justru menguat. Penguatan greenback ini merupakan efek klasik dari aksi lari ke aset aman (safe haven) di tengah gejolak geopolitik. Namun, penguatan dolar ini menjadi sentimen negatif tambahan bagi perusahaan multinasional AS yang pendapatannya bergantung pada pasar luar negeri.

Koreksi Beruntun S&P 500 dan Sikap Wait and See Investor

Indeks S&P 500 tercatat turun untuk hari kedua berturut-turut. Pelemahan ini mengikis sebagian besar keuntungan yang telah dibukukan indeks pada awal bulan. Investor memilih mengurangi eksposur risiko dan menunggu kejelasan dua hal: arah negosiasi Timur Tengah dan data tenaga kerja AS malam ini.

Jika data ketenagakerjaan menunjukkan pasar tenaga kerja yang masih ketat, maka peluang kenaikan suku bunga The Fed akan semakin besar. Kombinasi antara harga energi tinggi dan suku bunga yang masih ketat adalah skenario terburuk bagi valuasi saham, khususnya di sektor teknologi yang sensitif terhadap diskon arus kas masa depan.

Follow lampungvoice.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks