Pencarian

Ekspor Lampung Tumbuh 16,17 Persen pada Juni 2026, Neraca Dagang Surplus US$533,6 Juta

Senin, 03 Agustus 2026 • 21:41:01 WIB
Ekspor Lampung Tumbuh 16,17 Persen pada Juni 2026, Neraca Dagang Surplus US$533,6 Juta
Petugas memeriksa aktivitas bongkar muat kontainer di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, seiring nilai ekspor Lampung pada Juni 2026 yang tercatat mencapai US$646,28 juta.

BANDAR LAMPUNG — Nilai ekspor Lampung pada Juni 2026 mencapai US$646,28 juta, meningkat signifikan dibanding US$556,32 juta pada Juni 2025. Di sisi lain, impor hanya tercatat US$112,68 juta atau anjlok 34,84 persen secara tahunan, sehingga mendorong surplus neraca dagang ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Pranata Komputer Ahli Madya BPS Provinsi Lampung, Hermawan Prasetyo, menyebut kinerja ini menunjukkan fundamental perdagangan luar negeri daerah masih kuat. Surplus terjadi karena nilai ekspor jauh melampaui impor sepanjang Juni 2026.

Kontribusi Pelabuhan Lokal Capai 82,5 Persen

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, total ekspor Lampung tercatat US$3,009 miliar. Sebagian besar pengiriman, senilai US$2,48 miliar atau 82,50 persen, masih dilakukan melalui pelabuhan di dalam provinsi, sementara 17,50 persen sisanya keluar lewat pelabuhan di luar Lampung.

Meski surplus bulanan impresif, secara kumulatif semester pertama tahun ini ekspor terkoreksi tipis 1,25 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan ekonomi global disebut menjadi faktor utama penahan laju permintaan.

AS dan Tiongkok Dominasi Tujuan Ekspor

Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan nilai US$446,95 juta atau 14,85 persen dari total ekspor. Tiongkok menyusul di posisi kedua dengan US$392,71 juta, dan Belanda di urutan ketiga sebesar US$245,67 juta.

Ketiga negara tersebut terutama menyerap komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati asal Lampung. Komoditas ini mendominasi total ekspor dengan nilai US$1,35 miliar atau hampir separuh (44,98 persen) dari keseluruhan pengiriman selama Januari–Juni 2026.

Bahan bakar mineral menempati posisi kedua dengan nilai US$462,73 juta, disusul kopi, teh, dan rempah-rempah senilai US$400,69 juta.

Impor Anjlok 28,16 Persen, Mesin dari Jerman Masuk

Secara kumulatif, impor Lampung pada semester pertama 2026 hanya mencapai US$828,15 juta, turun 28,16 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya pembelian bahan baku dan barang modal di tengah ketidakpastian ekonomi.

Jerman tercatat sebagai negara asal impor terbesar dengan nilai US$157,31 juta, didominasi kapal, perahu, dan struktur terapung. Amerika Serikat menyusul dengan US$154,49 juta, dan Australia US$87,61 juta untuk komoditas binatang hidup serta ampas industri makanan.

Deflasi Juli 2026: Harga Pangan Turun, Inflasi Tahunan 1,76 Persen

Bersamaan dengan rilis data perdagangan, BPS juga mencatat Lampung mengalami deflasi 0,49 persen pada Juli 2026. Penurunan harga dipicu melandainya harga pangan seperti bawang merah, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan tomat.

Kendati demikian, secara tahunan Lampung masih mencatat inflasi sebesar 1,76 persen, menandakan tekanan harga jangka pendek mereda namun biaya hidup tetap bergerak naik dibanding tahun lalu.

Follow lampungvoice.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: lampung.viva.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks