BANDAR LAMPUNG — Dua dari enam dapur yang disetop terkait langsung dengan kasus dugaan keracunan massal. Di Kabupaten Tanggamus, delapan siswa SMP Negeri 1 Talang Padang dilaporkan mengalami mual, muntah, hingga diare setelah menyantap menu MBG pada Rabu (22/7/2026). Mereka mendapat penanganan medis. SPPG Sinar Betung di Kecamatan Talang Padang pun dihentikan sementara sejak 23 Juli 2026.
Belum sempat mereda, kejadian serupa terjadi di Kabupaten Pesawaran. Sebanyak 32 siswa SD Negeri 22 Tegineneng diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu sop buah pada Jumat (24/7/2026). Sehari berselang, operasional SPPG di Kecamatan Tegineneng juga dihentikan untuk evaluasi dan pemeriksaan.
Empat Dapur Lain Disetop karena Administrasi dan Fasilitas
Kasubbag Tata Usaha Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Lampung Bengkulu, Fitra Alfarisi, menyatakan penghentian ini adalah langkah evaluasi untuk memastikan keamanan makanan. Dua dapur yang terkait dugaan keracunan baru bisa beroperasi kembali setelah memenuhi rekomendasi hasil pemeriksaan makanan dan perbaikan infrastruktur.
Empat SPPG lainnya dihentikan karena alasan berbeda. Keempatnya adalah SPPG Jabung Negara Batin di Lampung Timur, SPPG Way Serdang Labuhan Baru dan SPPG Mesuji Sumber Makmur di Mesuji, serta SPPG Kotabumi Utara Kali Cinta di Lampung Utara. Penyebabnya, fasilitas dapur belum memenuhi standar dan kelengkapan dokumen administrasi yang masih harus diperbaiki.
Pengawasan 1.200 Dapur Jadi Pekerjaan Besar
Lampung saat ini memiliki sekitar 1.200 dapur MBG yang tersebar di berbagai wilayah. Jumlah ini membuat pengawasan menjadi tantangan tersendiri. Fitra mengakui belum seluruh dapur menjalani inspeksi. Namun, SPPG yang ditemukan tidak memenuhi petunjuk teknis akan diminta melakukan perbaikan, bahkan bisa dikenai penghentian sementara operasional.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri menyasar jutaan siswa di Indonesia. Di Lampung, kasus ini menjadi pengingat bahwa kecepatan penyediaan makanan harus berjalan beriringan dengan ketelitian menjaga kualitas. “Pada akhirnya, MBG bukan hanya tentang makanan yang tiba di meja makan anak-anak setiap hari. Ada kepercayaan orang tua yang ikut dititipkan,” ujar Fitra.