Keempat titik api terdeteksi di sejumlah wilayah Lampung pada Juli. Seluruh kejadian berhasil dikendalikan petugas sehingga tidak meluas. Menurut Fareza, luas lahan terbakar di setiap lokasi masih di bawah satu hektar—bahkan sebagian hanya puluhan meter persegi.
"Masih sebatas puluhan meter persegi dan berhasil ditangani oleh petugas pemadam sehingga tidak meluas," ujarnya kepada Kompas.com, Sabtu (25/7/2026).
Pemicu Bukan Alam, tapi Ulah Manusia
Fareza menegaskan, meski vegetasi kering akibat minim hujan memudahkan api menyebar, sumber api justru berasal dari aktivitas warga. Temuan di lapangan menunjukkan dua penyebab utama: pembakaran sampah secara terbuka dan puntung rokok yang dibuang sembarangan.
"Vegetasi yang mengering menjadi faktor pendukung sehingga api lebih mudah menyebar. Namun, pemicunya lebih banyak berasal dari aktivitas manusia," katanya.
BPBD Alihkan Fokus dari Banjir ke Kebakaran
Memasuki musim kemarau, BPBD Lampung menggeser prioritas penanganan bencana. Personel dan peralatan yang sebelumnya dikerahkan untuk antisipasi banjir kini difokuskan memantau titik panas (hotspot) bersama BPBD kabupaten/kota.
Patroli ditingkatkan di kawasan bervegetasi kering—lahan perkebunan dan hutan—yang rawan menjadi lokasi munculnya kebakaran. Langkah ini diambil bersamaan dengan berkurangnya ancaman banjir di Lampung.
Fareza mengimbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan dan lebih berhati-hati saat membuang puntung rokok, terutama di area yang ditumbuhi rumput kering dan semak belukar. "Satu percikan api bisa berakibat fatal jika lahan sudah kering," pungkasnya.