BANDAR LAMPUNG — Festival Krakatau 2026 didorong tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang belajar sejarah, geologi, dan mitigasi bencana. Usulan itu mengemuka setelah kritik dari Kelompok Studi Kader (Klasika) Lampung dan mendapat dukungan dari Gunawan Handoko. Diharapkan perhelatan pada 25–30 Agustus 2026 di Lapangan Saburai itu mampu memperkuat literasi publik tentang letusan Gunung Krakatau 1883.
“Meriah itu wajib, tetapi kalau setelah pulang dari Festival Krakatau anak-anak kita tidak memahami sejarah letusan 1883, tsunami, maupun mitigasi bencana, lalu apa yang sebenarnya kita rayakan? Nama Krakatau sudah dikenal dunia, jangan sampai anak-anak Lampung justru tidak belajar tentang Krakatau,” ujar Gunawan. Ia menilai panitia masih punya waktu memperkaya rangkaian kegiatan.
Tiga Tenda yang Diusulkan
Gunawan menyebut setidaknya tiga ruang yang perlu dihadirkan. Pertama, tenda geologi dan sejarah yang menampilkan miniatur letusan Krakatau 1883 beserta dokumentasi sejarah. Kedua, tenda mitigasi dan kebencanaan bekerja sama dengan BPBD dan BMKG, lengkap dengan simulasi evakuasi serta edukasi kesiapsiagaan.
Ketiga, tenda literasi dan budaya maritim. Ruang ini diisi bedah buku, pameran hasil penelitian, lomba baca puisi, serta diskusi bersama penulis dan pegiat sejarah. “Festival Krakatau harus menjadi pesta rakyat sekaligus ruang pembelajaran,” kata Gunawan.
Kritik dari Aktivis: Jangan Hanya Tontonan
Sebelumnya, Direktur Klasika Lampung Ahmad Mufid menyayangkan minimnya ruang edukasi dalam penyelenggaraan Festival Krakatau. Menurutnya, agenda tahunan yang menggunakan nama Krakatau semestinya menjadi media refleksi sejarah dan pembelajaran publik. “Festival Krakatau jangan hanya berhenti sebagai tontonan. Ia harus menjadi tuntunan. Peristiwa letusan Krakatau 1883 bukan sekadar sejarah, tetapi juga pelajaran penting tentang kebencanaan, ekologi, dan kemanusiaan,” kata Mufid.
Rangkaian Acara 2026
Festival Krakatau 2026 dijadwalkan berlangsung di Lapangan Saburai, Enggal, Bandar Lampung, sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN). Rangkaian kegiatan meliputi festival band, solo song, dance, Mengan Balak, Seruit Battle, Krakatau Run, festival mewarnai, karnaval budaya, pertunjukan seni tradisional, festival kuliner, Pesona Kemilau Krakatau, tur edukasi Gunung Anak Krakatau, balap perahu, lomba layang-layang, serta pameran seni rupa dan kerajinan lokal.
Gunawan berharap nama besar Krakatau dijaga melalui penguatan pengetahuan masyarakat, bukan hanya kemeriahan panggung. “Anak-anak Lampung harus pulang dengan pemahaman tentang sejarah dan mitigasi,” pungkasnya.