BANDAR LAMPUNG — Aktivitas jual beli daging sapi di sejumlah pasar tradisional Kota Bandar Lampung kembali bergeliat setelah pedagang menghentikan penjualan pada 22-23 Juni 2026. Namun, keluhan warga kini beralih ke harga eceran yang merangkak naik hingga Rp150 ribu per kilogram.
Robi, seorang pedagang di Pasar Way Halim, mengungkapkan bahwa aksi mogok dilakukan setelah harga dari suplier naik Rp10 ribu per kilogram secara mendadak. “Kami membeli daging dari suplier, jadi posisinya sebagai tangan kedua sebelum dijual ke konsumen. Karena harga dari pemasok naik, kami sempat mogok berjualan selama dua hari,” katanya, Kamis (25/6/2026).
Keputusan Mogok dan Penyesuaian Harga
Menurut Robi, keputusan mogok diambil setelah para pedagang menggelar musyawarah. Hasilnya, mereka sepakat kembali berjualan dengan melakukan penyesuaian harga jual ke konsumen. Saat ini, harga daging sapi di tingkat pedagang berkisar Rp145 ribu per kilogram, bahkan untuk beberapa jenis potongan mencapai Rp150 ribu.
“Harga terpaksa kami naikkan. Stok yang dibawa hari ini juga belum banyak karena kami masih melihat kondisi pasar dan respons pembeli,” ujarnya.
Pemicu Kenaikan: Dolar AS dan Sapi Impor Australia
Kepala Dinas Perdagangan Kota Bandar Lampung, Erwin, membenarkan bahwa aksi mogok hanya berlangsung dua hari dan kini aktivitas perdagangan telah normal kembali. Ia menjelaskan, kenaikan harga daging dipicu oleh meningkatnya harga sapi impor asal Australia akibat penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat.
“Kenaikan sekitar Rp5 ribu sampai Rp10 ribu per kilogram. Ini juga dipengaruhi kondisi ekonomi global yang berdampak pada komoditas impor,” jelas Erwin.
Kondisi tersebut berimbas pada harga sapi di tingkat distributor hingga pedagang. Sebelumnya, harga daging sapi di Bandar Lampung berada di kisaran Rp135 ribu per kilogram.
Pasokan Tetap Aman, Pemkot Pantau Distribusi
Meski harga naik, Pemerintah Kota Bandar Lampung memastikan pasokan daging tetap tersedia. Kesepakatan antara pedagang dan pemkot telah mendorong kembali aktivitas jual beli. Disdag juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait, mengingat pengaturan distribusi sapi berada dalam kewenangan pemerintah provinsi.
“Yang terpenting saat ini pedagang sudah kembali berjualan sehingga kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi,” pungkas Erwin.
Robi berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga sehingga tidak semakin membebani pedagang maupun masyarakat sebagai konsumen.